SHARE
Pemuda masih Terbelenggu Degradasi Moral
Dok. kemenpora.go.id

PONTIANAK-Hari Sumpah Pemuda (HSP) diperingati setiap tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Tepat di tahun ini, HSP telah diperingati sebanyak 90 kali, terhitung sejak 28 Oktober 1928 silam.

Pada tahun ke-90 peringatan HSP, para pemuda dinilai masih terbelenggu oleh sejumlah permasalahan. Mulai dari rendahnya jiwa sosial, degradasi moral, ketidakpedulian terhadap perkembangan zaman, dan berbagai persoalan lainnya.

Menurut aktivis pemuda Kalbar Akbar Ramadhan, masalah utama pemuda saat ini ialah kurangnya inisiasi untuk berbuat. Artinya, kemauan pemuda untuk turut aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dinilai masih rendah.

“Masalah utamanya adalah inisiasi pemuda untuk berbuat masih kurang. Berbuat yang saya maksud adalah mau turut aktif dalam berbagai bidang. Apakah itu menyibukkan diri dengan organisasi ataupun komunitas dengan hal-hal positif,” ujar Akbar Ramadhan di Pontianak, Minggu (28/10/2018).

Ketua Komunitas Pontianak Mude ini beranggapan masih banyak pemuda yang tidak peduli dengan kehidupan sosial. Pemuda masa kini, hanya terpaku pada pencapaian pribadi.

“Pemuda sekarang masih banyak yang cuek dengan kehidupan sosialnya. Mereka hanya fokus pada pencapaian cita-cita menurut sudut pandang mereka. Artinya, yang pelajar sibuk belajar di sekolah. Yang di kampus sibuk dengan perkuliahannya,” ungkap Akbar.

Akbar yang juga sebagai Sekretaris Jenderal Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Sapma PP) Kalbar ini menambahkan pola-pola perilaku yang disebutnya tadi dapat memicu terjadinya hal-hal negatif apabila dibiarkan terus menerus.

“Nah, pola pikir ini yang menurut saya menjadi masalah. Akhirnya pemuda seakan hidup sendiri tanpa ada kesibukan positif yang berdampak pada orang banyak. Jika dibiarkan, hal ini dapat menjadi pemicu pemuda untuk melakukan hal-hal negatif seperti narkoba, pergaulan bebas, dan hal-hal negatif lainnya,” timpalnya.

Senada dengan Akbar, aktivis pemuda Kalbar asal Sambas, Nugra Irianta Denashurya juga mengungkapkan permasalahan yang sedang membelenggu pemuda. Nugra yang merupakan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sambas ini menilai para pemuda terlalu dibutakan oleh teknologi.

“Pemuda terlalu dibutakan dengan teknologi. Teknologi itu harusnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif. Mulai dari membuka wawasan sampai sumber mata pencaharian,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Minggu (28/10/2018).

Lulusan North American University Amerika Serikat ini menambahkan persoalan lain yang dialami pemuda ialah terlampau berlebihan dalam menyikapi perbedaan. Pemuda, sambungnya melupakan bahwa begitu banyak persamaan di antara mereka yang dapat disatukan.

“Sebesar apapun perbedaan, kita harus ingat bahwa kita bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi menurut saya tidak lah elok kalau kita hanya fokus kepada perbedaan. Sehingga kita lupa, banyak sekali persamaan yang sebenarnya dapat kita satukan,” pungkasnya.

Di momentum peringatan HSP, kedua aktivis pemuda Kalbar ini mengajak para pemuda untuk membuka cakrawala pemikiran agar dapat berbuat yang terbaik untuk negeri. Keduanya juga mengajak para pemuda menggelorakan kembali semangat persatuan dan kesatuan. (NAJ)