SHARE
Menakar Posisi Tawar Politik Kaum Millenial ala Pokja Rumah Demokrasi
Politisi menakar posisi tawar kaum millenial dalam kontestasi politik jelang Pemilu 2019. Foto: Dok Pokja Rumah Demokrasi.

PONTIANAK – Kelompok Kerja (Pokja) Rumah Demokrasi menggelar diskusi publik pada Sabtu (25/8/2018) di Cafe Whats Up, Jalan Zainudin, Kota Pontianak. Kali ini mereka mengusung tema “Orientasi Politik Generasi Millenial.”

Ketua Umum Pokja Rumah Demokrasi Zainudin Kismit menjelaskan beberapa indikator diskusi tersebut. Pertama soal data Pemilu 2014 secara nasional. Selama beberapa kali Pilkada di Kalbar, angka pemilih muda yang juga merupakan bagian dari pemilih pemula telah mencapai 30 persen daftar pemilih. Artinya potensi tersebut membuat anak muda akan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik untuk demokrasi dan Pemilu di Kalbar dan Indonesia untuk masa mendatang.

Kedua adalah bonus demografi yang diperkirakan pada 2025 akan melibatkan anak muda sebagai ujung tombak perubahan di berbagai sektor, termasuk menentukan arah politik sehingga perlu pembinaan serta diskusi-diskusi. Minimal membuka pandangan politik anak muda agar tidak lagi bersikap apatis, skeptis, dan yang pastinya tidak menjadi pewaris budaya politik lama yang dinilai selama ini tidak baik.

Ketiga tentang pembentukan karakter dan pola pikir anak-anak muda, Pokja Rumah Demokrasi mengupayakan bagaimana anak-anak muda kita terus memberikan ide dan gagasan dalam ranah politik sehingga keterlibatan mereka di parpol maupun non parpol memberikan semangat optimisme perubahan tidak sekadar mengikuti tren pasaran.

“Untuk itu kita mengambil tema diskusi kita kali ini fokus ke arah politik anak muda agar ke depannya mereka punya pandangan terkait pilihannya,” tuturnya.

Menurut Zainudin, ada tiga narasumber mewakili tiga partai politik peserta Pemilu. Ketiga narasumber parpol tersebut yang akhir-akhir ini mulai bergerak untuk mengambil simpati anak-anak muda dengan mengubah arah politiknya ke anak-anak muda. Walau pun mungkin ada beberapa parpol juga ke arah sana tetapi belum gencar untuk bergerak.

“Kita ingin para anak muda yang masuk dalam parpol punya pandangan dan pilihannya sendiri. Jangan sampai sekadar ikutan-ikutan saja, karena untuk merawat masa depan bangsa ini, kita harus merawat generasi mudanya,” pungkas Zainudin.

Ketua DPW PSI Kalbar, Moch Sabi’in mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Pokja Rumah Demokrasi.

Menurutnya kegiatan seperti ini membawa angin segar bagi generasi millenial dalam proses edukasi politik. Sabi’in berharap kegiatan seperti ini berjalan secara berkelanjutan.

“Saya sangat mengapresiasi. Karena ruang-ruang diskusi publik seperti ini sangat jarang. Tapi dengan kegiatan yang diselenggarakan kawan-kawan membawa angin segar untuk memberikan pendidikan khususnya untuk generasi millenial,” tuturnya.

Sabi’in menilai politik praktis perlu dinilai secara positif oleh generasi millenial mengingat mereka harus mempunyai wadah dan pentas politik dengan sendirinya. Karena dirinya merasa generasi millenial mempunyai idealisasi dan semangat yang tidak di bawah under pressure. Mereka punya pola pikir sendiri dan memang hari sangat visioner.

Tentunya generasi millenial harus membekali diri dengan integritas dan kredibilitas  yang baik dengan membekali dirinya literasi, diskusi, dan kegiatan-kegiatan positif.

“Kita berharap generasi millenial ke depan mampu membawa cara berpolitik yang lebih baik, mendekati politik pada kebajikan tentunya,” jelasnya.

Dia mengatakan agar kebijakan-kebijakan negara memihak pada kaum muda. Pertama sekali generasi nillenial harus peduli, pengalaman sudah mengajarkan kita, di beberapa negara lain juga sudah membuktikan bahwa generasi millenial mempunyai proyeksi politik secara sendirinya.

“Kita berharap generasi millenial yang ada di Indonesia hari perduli. Ke depan mereka harus mampu mengambil sikap-sikap politik. Yang terpenting Pemilu 2019 nanti mereka tidak golput,” tutupnya.

Sementara Wakil Sekretaris Partai Demokrat Kalbar Imam Abu Hanifah menilai sangat penting bagi generasi millenial untuk masuk ke dalam ranah politik itu sendiri. Kalau memang optimistis generasi millenial itu sebuah perubahan.

Menurutnya kalau generasi millenial tidak ikut berpartisipasi secara langsung, maka optimisme perubahan yang dilakukan generasi millenial menjadi sia-sia.

Menurutnya, saat ini kaum millenial mempunyai posisi cukup besar dalam Pemilu 2019. Oleh karena itu mereka mempunyai pilihan yang tepat, dengan meyakini optimisme itu, maka perubahan akan terjadi.

“Sekarang cukup besar peluang anak muda masuk ke dalam politik. Itu kelihatan misalnya dari parpol nasionalnya yang mempersiapkan kader-kadernya berasal dari kaum-kaum millenial,” jelasnya.

Kompetisi antara parpol saat ini, kata Imam, perlu mengambil simpati generasi millenial sebanyak mungkin dan masing-masing parpol mempersiapkan kader-kader berasal dari kaum muda untuk ikut dalam kontestasi politik.

Dirinya berharap generasi millenial jangan merasa bahwa politik praktis adalah sesuatu yang tabu atau mencapnya negatif. Karena untuk melakukan perubahan yang paling efektif adalah masuk ke dalam ranah politik itu sendiri.

“Kita tidak bisa hanya di luar, sebagai pengamat. Kalau seperti itu perubahan tidak akan terjadi. Kita harus masuk ke dalam substansi dan regulasi untuk kemudian melakukan perubahan tersebut,” tutupnya.

Ketua PD AMPG Kalbar Erry Iriansyah tidak menampik bahwa kaum muda pada Pemilu 2019 tidak bisa dipandang sebelah mata.

Menurutnya hampir seluruh partai mendekatkan diri kepada kaum muda, dengan berbagai formula yang ditawarkan oleh masing-masing parpol.

Sehingga dirinya sebagai pemimpin organisasi pemuda sayap Golkar membangun strategi untuk menggaet pemilih yang berasal dari kalangan millenial dengan metode yang memang dekat dengan kaum millenial itu sendiri..

“Kaum millenial ini tidak bisa langsung ditarik perhatiannya untuk terjun berpolitik. Karena mereka masih ada antipati dengan politik, tapi dengan kegiatan-kegiatan yang dekat dengan mereka, perlahan kita perkenalkan dengan mereka. Bahwa pemahaman tentang parpol sekarang sudah tidak seperti dulu lagi yang hanya diisi oleh orang tua dan sikap negatif lainnya.”

Dirinya menilai peluang anak muda untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan masih ada. Hanya saja dirinya menilai dalam politik jangan mengharapkan lebih, karena semua partai juga punya basis untuk menggaet kaum millenial. (R-1)