SHARE
Berkolaborasi Meracik Masa Depan Bekantan
Bekantan (Nasalis larvatus) di Lanskap Kubu. Foto: Dok WWF-Indonesia

PONTIANAK – WWF-Indonesia kembali menggandeng para pihak untuk berkolaborasi dan duduk bersama guna membahas nasib bekantan (Nasalis larvatus) di Lanskap Kubu. Upaya penyelamatan satwa endemik Pulau Kalimantan ini digagas dalam sebuah workshop bertajuk Membangun Manajemen Konservasi Bekantan Melalui Pendekatan Best Management Practices (BMP) di Pontianak, 25-26 September 2019.

Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan menyambut baik langkah tersebut sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk merawat pesan peradaban. “Pemerintah tentu sangat senang dengan upaya semacam ini. Apalagi bekantan dan mangrove sudah menjadi ikon Kubu Raya,” katanya saat memberikan arahan workshop di Pontianak, Rabu (25/9/2019).

Menurut Muda, Lanskap Kubu adalah sebuah wilayah yang sangat diperhitungkan dalam kebijakan pembangunan. Bentang alam seluas 732.266 hektar ini punya potensi besar. Di sana ada mangrove, pertemuan sungai dan laut, juga spesies endemik Kalimantan yakni bekantan.

Oleh karenanya, Muda meminta semua pihak agar berkolaborasi menciptakan iklim pembangunan yang elegan di Lanskap Kubu. “Pemerintah bisa menyiapkan instrumennya. Termasuk regulasi yang diperlukan guna memayungi ide-ide yang akan dicetuskan dalam workshop ini,” pintanya.

Dia mencontohkan terobosan baru yang sudah dilakukan oleh Pemkab Kubu Raya, yakni pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan, Pengonsolidasian, Pemutakhiran, dan Penguatan Desa. Pokja ini diketuai Sekda Kubu Raya.

“Makanya kami butuh perspektif yang langsung bisa mengena dengan manajemen desa. Ini tentu beririsan dengan pemegang konsesi yang juga sudah ada sejak dulu. Mau diapakan pengelolaannya supaya bekantan, pesut, burung migran, dan lain-lain tidak lari. Semua bisa hidup nyaman di habitatnya,” ucap Muda.

Dalam pandangan Muda, ada rahasia-rahasia alam yang perlu diungkap. Arahnya wisata alam dan edukasi. “Seperti apa pun model BMP dan SOP-nya, pemerintah akan berusaha ikut dinamika yang berkembang supaya dapat searah dan sejalan,” ucapnya.

Muller Schwaner Arut Belantikan (MSA) Landscape Manager WWF-Indonesia Anas Nasrullah mengatakan bahwa pertemuan para pihak dalam workshop ini sangat strategis. “Kita ingin menyatukan pandangan sekaligus membangun model konservasi bekantan melalui pendekatan BMP,” katanya.

Anas mengatakan, ancaman kepunahan bekantan semakin tinggi karena sebagian besar hidup di luar kawasan konservasi. Kondisinya terancam oleh berbagai aktivitas manusia seperti perburuan, kebakaran, perdagangan,dan konversi hutan.

Di sisi lain, sambung Anas, sejumlah pemegang izin konsesi sudah memiliki komitmen merawat habitat dan populasi bekantan secara berkelanjutan. Bahkan mereka sudah membentuk satuan manajemen konservasi biodiversitas dan kajian secara intensif.

Oleh karenanya, kata Anas, langkah ini merupakan ajang bertukar pikiran. Hasilnya akan diperkuat dengan strategi mereplikasi ke lokasi lain atau pemangku kepentingan yang belum memiliki kapasitas soal manajemen konservasi biodiversitas.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Kementerian LHK Sofian Iskandar mengatakan bahwa Lanskap Kubu perlu dikelola secara bijak melalui proses pembangunan berkelanjutan. “Potensinya unik. Surga investasi, sekaligus habitat bekantan. Agar dapat berjalan selaras, yang diperlukan adalah komitmen menjadikan SRAK bekantan sebagai pedoman bersama,” katanya.

Menurut Sofian, para pihak harus mampu merumuskan kegiatan prioritas untuk menjamin peningkatan dan keberlanjutan populasi bekantan. Hal ini berlaku dalam proses pembangunan kawasan konservasi, hutan tanaman, hutan alam, dan perkebunan di Lanskap Kubu.

Untuk mendukung upaya ini, M Ali Imron mewakili akademisi UGM membantu dengan pendekatan pemodelan Population Viability Analysis. Pemodelan ini digunakan untuk memproyeksikan nasib bekantan di Lanskap Kubu selama 100 tahun ke depan. Hasil dari pemodelan tersebut dapat memberikan arahan pengelolaan populasi bekantan yang ada di dalam lanskap penting di Kalimantan Barat ini.

“Upaya serius dan sinergis antarpihak, baik pemerintah, swasta, civil society untuk melindungi bekantan sangat diperlukan. Spesies endemik Kalimantan ini harus didukung, agar kita menjadi tuan rumah bagi perlindungan keragaman hayati,” kunci Ali Imron. (*/R-1)