SHARE
Merawat Peradaban Sungai
Aktivitas kehidupan di Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Foto: Andi Fachrizal/Kalbarupdates.com

PONTIANAK – Peradaban sungai merupakan salah satu awal mula peradaban. Peradaban Mesir Kuno dengan Sungai Nil-nya, Cina Kuno yang melekat dengan Sungai Kuning-nya dan India Kuno dengan Sungai Indus  adalah contoh dari sekian banyak peradaban lama yang tumbuh dari pinggir sungai.

Di Indonesia pun jejak-jejak peradaban sungai ini masih ada sampai sekarang. Setidaknya Tarumanegara yang tumbuh di pinggir Sungai Citarum, komplek agung Muaro Jambi yang tegak di tepi Sungai Batanghari, dan Kesultanan Kadriah di sisi Sungai Kapuas ialah bukti sahih bahwa sungai pernah jadi peradaban yang berjaya pada masanya.

Pada era modern, jejak-jejak peradaban sungai mulai luntur. Berubah dan menjelma menjadi kota. Satu di antaranya Pontianak, kota yang dibelah oleh Sungai Kapuas. Bagi orang Pontianak, Kapuas bukan sekadar sungai. Kapuas mereka anggap sebagai simbol pemberi kehidupan. Sebutan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak nyawa yang menggantungkan hidupnya dari Sungai Kapuas. Bahkan tak sedikit warga Pontianak yang bermukim di atas landainya arus sungai yang mulutnya terletak di Selat Karimata tersebut. Salah satu pemukiman warga itu bernama Kampung Bansir. Lebih tepatnya Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak.

Sebagaimana kampung yang pada umumnya memiliki sejarah dalam penanamannya, Bansir pun demikian. Bansir diambil dari nama mantan penasihat spiritual Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (pendiri dan sultan pertama Kesultanan Kadariyah Pontianak) yang bernama Syech Umar Bin Ahmad Bansir. Terletak persis di pinggiran Sungai Kapuas, kampung Bansir dihuni oleh mayoritas suku Melayu dengan beberapa hasil pernikahan campuran Bugis, Arab, dan Tambi.

Bansir merupakan satu di antara kampung yang tetap menjaga eksistensi disaat banyak kampung pesisir sungai lainnya menghilang ditelan waktu. Warga setempat memilih mempercantik kampungnya agar tak dianggap kuno.

Pengecatan pagar pemakaman, penanaman pohon, pengecatan gertak (jembatan kayu), dan berbagai upaya lainnya tak henti-hentinya dilakukan warga demi mempercantik kampung. Jerih payah itu membuahkan hasil. Pada bulan Oktober 2016, Bansir diluncurkan sebagai “Kampung Budaya” oleh Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Arno, Lurah Bansir Laut membenarkan hal tersebut. “Bansir Laut sejak 2016 telah menjadi kampung budaya. Itu sudah dilaunching oleh Pemkot Pontianak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” ujarnya ketika ditemui di Kantor Lurah Bansir Laut, Jalan Media Pontianak, Selasa (14/8/2018) pagi.

Bansir tak melulu soal kecantikan, warna-warni yang disuguhkan, dan budayanya. Jauh dari itu, Bansir juga menyimpan banyak masalah di dalamnya. Sama seperti kawasan pesisir sungai kebanyakan, Bansir juga termasuk penyumbang kekumuhan kota. Total luas wilayah kumuhnya bahkan mencapai 2,94 hektar dengan tingkat kekumuhan kategori berat.

Kelurahan Bansir Laut ditetapkan sebagai kawasan kumuh berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Pontianak Nomor: 398/D-CKTRP/tahun 2015 tentang Penetapan Lokasi Perumahan dan Permukiman Kumuh di Kota Pontianak bersama 17 kelurahan lainnya.

Kumuhnya Bansir disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya: kondisi jalan lingkungan yang tak sesuai standar, ketidakteraturan bangunan, dan ketidaksesuaian sanitasi dengan persyaratan teknis. Selain faktor-faktor tersebut, sampah yang menumpuk di pesisir sungai adalah penyumbang kekumuhan terbesar.

“Faktor paling besar yang menjadikan Bansir Laut sebagai kawasan kumuh ialah sampah. Dalam hal ini, Bansir Laut menjadi korban dari banyaknya sampah yang dibuang oleh yang bukan warga kami. Sebab, mayoritas sampah yang dibuang itu berasal dari empat kelurahan, yaitu Benua Melayu Darat, Benua Melayu Laut, Parit Tokaya, dan Bansir Darat,” ucap Arno.

Dalam menata kawasan kumuh Kelurahan Bansir Laut, tentu diperlukan langkah yang sistematis dan terencana. Dalam Rencana Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan (RKP – KP) 2015-2019, Bansir Laut tidak termasuk kawasan prioritas penanganan wilayah kumuh.

“Pihak-pihak terkait harus bersinergi menata kawasan kumuh Bansir Laut. Mulai dari kelurahan hingga ke pemkot. Dari Bansir Laut sendiri tak henti-hentinya mengimbau masyarakat pesisir sungai untuk tidak membuang sampah sembarangan. Warga kami di Gang Mendawai juga sudah membuat bank sampah yang dinamai Mendawai Berkah dan diketuai oleh Ibu Mariamah,” tambah Arno.

Dihubungi via WhatsApp, Asmi Nur Aisyah, Sekretaris Angkuts (perusahaan rintisan di bidang jasa pengangkutan sampah di Kota Pontianak) mengatakan masih banyak masyarakat sekitar yang membuang sampah ke perairan sungai.

“Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan beberapa waktu lalu, memang masih banyak masyarakat yang membuang sampahnya langsung ke perairan sungai,” ujar perempuan yang biasa dipanggil Asmi, Rabu (15/8/2018) malam.

Asmi menilai, permasalahan kumuhnya kawasan pinggiran sungai Bansir Laut yang disebabkan oleh sampah dapat dilakukan dengan pemasangan jaring-jaring agar sampah yang mengapung dapat tertahan di satu titik.

“Solusi dari permasalahan sampah di pinggiran sungai Bansir Laut menurut saya ialah memasang jaring-jaring agar sampah yang mengapung tertahan di satu titik. Hal tersebut akan memudahkan proses pembersihannya,” tambah Asmi.

Kerja sama antara pemerintah daerah, komunitas peduli lingkungan, dan masyarakat sekitar, menurut Asmi juga diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Kerja sama berbagai pihak seperti pemerintah daerah, komunitas peduli lingkungan, dan masyarakat sekitar diperlukan untuk mengatasi persoalan ini. Sebagai contoh, dinas terkait memberikan tong sampah di titik-titik tertentu. Selain itu, edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan pinggiran sungai juga perlu disampaikan kepada masyarakat sekitar agar warga tidak lagi membuang sampah sembarangan. Dengan kata lain, masyarakat perlu dibangun kesadarannya akan hal itu,” tutup Asmi. (NAJ)