SHARE

PUTUSSIBAU – Mulanya adalah inisiatif tiga negara sahabat: Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia. Delegasi tiga negara itu bertemu dalam satu forum bersama pada 12 Februari 2007 di Bali.

Mereka akhirnya bersepakat mendeklarasikan komitmen untuk memelihara dan mengelola kawasan hutan tropis dataran tinggi Borneo. Pengelolaannya didasarkan pada prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Kawasan tersebut kemudian lebih dikenal dengan sebutan Heart of Borneo (HoB).

Data HoB menyebutkan bahwa inisiatif seperti ini bertujuan mempertahankan dan memelihara keberlanjutan manfaat dari salah satu kawasan hutan hujan terbaik yang tersisa di Borneo.

Luas total areal kawasan di tiga negara itu kurang lebih 23 juta hektar yang secara ekologis saling berhubungan. Sekitar 72 persen wilayah HoB berada di Indonesia dan didominasi hutan hujan tropis.

Anak-anak bercengkerama dengan alam, bersampan di atas Sungai Leboyan, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Foto: Andi Fachrizal/Kalbarupdates.com

Berdasarkan hasil kajian, kawasan ini memiliki tujuh fungsi penting. Yakni, tutupan hutan, keanekaragaman hayati, menara air, kelerengan, penyimpan karbon, sosial-budaya, dan ekowisata.

Salah satu fungsi pentingnya adalah sebagai menara air, di mana 14 dari 20 sungai utama Pulau Borneo berhulu di kawasan HoB. Sebut saja Sungai Barito, Sungai Mahakam, dan Sungai Kapuas.

Selain itu, kawasan tersebut juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dimana sekitar 40-50 persen jenis flora dan fauna di dunia, dapat dijumpai di Borneo. Dalam waktu 10 tahun terakhir, ditemukan sekitar 361 spesies baru flora dan fauna.

HoB adalah rumah dan sumber penghidupan bagi masyarakat lokal yang sebagian besar Suku Dayak dengan beragam karakteristik sosial budayanya. Secara ekonomi, sosial, dan budaya, masyarakat lokal bergantung pada hutan dan pemenuhan kebutuhan pangan, obat-obatan, sarana tempat tinggal, dan adat-istiadat.

Di sinilah berbagai program konservasi disematkan. Salah satunya penguatan Civil Society Organizations (CSO) dan Community-Based Organizations (CBO). Program ini diusung oleh WWF-Indonesia sejak tiga tahun lalu.

Community Enterprise Development Coordinator WWF-Indonesia Program Kalbar Dedi Wahyudy mengatakan penguatan CSO dan CBO lokal ini lebih mengedepankan tata kelola lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal.

Bentuknya adalah promosi dan advokasi ICCAs dari tingkat lokal ke regional. Hal lain yang diperkuat meliputi perekonomian masyarakat, dan perbaikan mata pencaharian.

Proses ini melalui berbagai platform dan inisiatif yang berkembang. Implikasinya antara lain, CSO dan CBO memiliki pengaruh lebih besar dalam inisiatif strategis. Termasuk kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

“Semua inisiatif akan mengubah penghidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Teori perubahan yang realistis, penting untuk segera terbangun,” kata Dedi saat dikonfirmasi di Sintang, Rabu (9/5/2018).

Melalui serangkaian pengalaman dalam bekerja sama dengan CSO dan CBO, ke depannya perlu ada perubahan dan perbaikan di beberapa kondisi strategis. Kondisi strategis dimaksud antara lain; kapasitas untuk mendorong perubahan, keadilan manfaat bagi pemegang hak, hukum dan kebijakan, ruang dan kondisi politik untuk partisipasi, peran tradisi budaya dan praktik sumber daya alam, serta norma dan kebiasaan sosial.

Beberapa kondisi yang perlu diubah tersebut menjadi agenda bersama CSO/CBO untuk diturunkan ke dalam kerja-kerja implementatif dengan mengedepankan nilai-nilai equality, integratif, kolaboratif, serta inovatif.

Beberapa inisiatif pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan oleh CSO dan CBO tersebut di atas perlu didiseminasikan kepada banyak pihak. Hal ini dinilai penting dalam konteks knowledge management, sehingga bisa menjadi literatur dan perbaikan pendekatan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Meramu Kebersamaan di Tengah Perbedaan

Beda itu anugerah. Karena perbedaanlah, hidup menjadi lebih berwarna. Laiknya pelangi, ragam warna yang menyatu dalam satu bingkai, bisa melahirkan harmoni-harmoni menakjubkan. Begitulah sejatinya laku hidup manusia sehari-hari.

Mempertemukan kaum Ibu dalam satu forum bersama. Foto: Dok WWF-Indonesia
Mempertemukan kaum Ibu dalam satu forum bersama. Foto: Dok WWF-Indonesia

Namun dalam tataran sosial, tak jarang simbol-simbol identitas melahirkan perpecahan. Termasuk jenis kelamin. Pemicunya adalah ego, sifat keakuan, dan hasrat mendominasi. Kondisi ini bisa berakibat fatal jika tidak diimbangi dengan nalar dan pendekatan yang tepat.

Banyak contoh di depan mata, dan sudah pula tunjuk hidung. Cerita tentang kaum perempuan yang tak mendapatkan ruang berekspresi, kerapkali menari dalam benak. Padahal prinsip-prinsip keadilan gender, sejatinya menjadi prioritas dalam konteks pembangunan.

Di sinilah embrio bagi lahirnya Sentra Kerajinan Banuaka dan Sentra Baras Banuaka di Kecamatan Batang Lupar. Ibu-ibu dari berbagai latar belakang sub-etnik, baik Iban maupun Tamambaloh di sepanjang koridor DAS Labian-Leboyan, Kapuas Hulu, berhimpun dalam satu wadah bersama.

Melalui sentra itulah, kaum hawa berinteraksi satu sama lain dalam bingkai persaudaraan. Mereka bertukar informasi, pengetahuan, sekaligus berkeluh kesah, agar mendapatkan solusi yang baik manakala diterpa berbagai persoalan akut.

Sentra Kerajinan Banuaka

Katarina Siti sedang duduk santai di sebuah warung kecil di Dusun Ukit-Ukit, Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu, pengujung 2017 lalu. Tak ada hal penting yang dilakukan selain ngobrol ringan dengan pemilik warung sambil menunggu buah hatinya, Marcelix Aristo Kalta pulang dari sekolah. Kalta tercatat sebagai peserta didik di bangku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Taradang.

Gelang hasil kerajinan tangan ibu-ibu dari masyarakat Iban dan Tamambaloh, Kapuas Hulu. Foto: Dok WWF-IndonesiaSesekali, kedua bola mata perempuan 32 tahun itu melirik jarum jam sambil menoleh ke arah sekolah yang tak jauh dari lokasi warung. Pada saat bersamaan, dia juga bercerita tentang kondisi Sentra Kerajinan Banuaka yang dipimpinnya saat ini. “Sentra ini tak lebih dari pengembangan lembaga yang sudah ada sebelumnya,” kata Katarina.

Dia menceritakan bahwa Sentra Kerajinan Banuaka mulai berdiri pada 8 Maret 2016. WWF Indonesia menjadi inisiator pendiriannya. Mereka yang terlibat membidani lahirnya sentra ini adalah Anas Nashrullah, Kusmiati, dan Faiza Libby Shabira Lubis.

Selama kurun waktu satu tahun berjalan, Sentra Kerajinan Banuaka telah mendedikasikan sejumlah produk kerajinan bernilai ekonomi. Produk-produk itu meliputi syal, kalung, gelang, dan gantungan kunci. Seluruh produk kerajinan tersebut dibuat melalui mekanisme tenun dan anyam dari bahan baku alami.

Gelang hasil kerajinan tangan ibu-ibu dari masyarakat Iban dan Tamambaloh, Kapuas Hulu. Foto: Dok WWF-Indonesia
Gelang hasil kerajinan tangan ibu-ibu dari masyarakat Iban dan Tamambaloh, Kapuas Hulu. Foto: Dok WWF-Indonesia

“Gelang yang saya pakai ini salah satu contoh produk kerajinan yang dibuat oleh anggota sentra,” jelasnya.

Katarina menggunakan lima gelang anyaman khas di tangan kirinya. Gelang itu terbuat dari berbagai bahan baku seperti rotan, resam, dan balukun. Sebelum menjadi produk, para pengrajin menggunakan bahan dasar rotan yang dibalut dengan resam dan balukun.

Itulah yang dikerjakan oleh kaum Ibu anggota Sentra Kerajinan Banuaka untuk menambah pundi-pundi ekonomi rumah tangganya. Selain berladang, ada kegiatan lain yang dapat membantu suami dalam hal mencari nafkah.

Hingga saat itu, jumlah anggota sementara Sentra Kerajinan Banuaka mencapai 112 orang. Mereka terbagi dalam delapan sub-sentra dan tersebar di empat desa se-Kecamatan Batang Lupar. Desa-desa anggota sentra itu adalah Melemba, Labian Ira’ang, Labian, dan Sungai Ajung.

Syal hasil tenunan kaum ibu dari komunitas adat Iban, Kapuas Hulu. Foto: Dok WWF-Indonesia

Di dalam menjalankan organisasi, sentra ini rutin menggelar pertemuan bulanan di Sekretariat Belekam. “Kami belum punya sekretariat sendiri. Jadi setiap pertemuan masih numpang di Belekam,” ucap Katarina.

Selain sebagai ajang silaturrahim bagi kaum Ibu di empat desa itu, mereka juga membahas tentang kualitas produk kerajinan. Manfaat pertemuan rutin itu lebih pada peningkatan kualitas anggota sentra dan aspek-aspek ekonomi.

“Sejauh ini semangat kaum Ibu untuk bergerak secara bersama dalam satu ikatan kekeluargaan berjalan sangat baik. Hanya saja, dalam tata kelola sentra sedikit terkendala oleh akses pasar. Praktis kami hanya menggunakan jejaring sosial untuk menjual produk-produk kerajinan yang ada,” jelasnya.

Katarina berharap, ke depan Sentra Kerajinan Banuaka ini dapat mandiri. “Setidaknya kita dapat mendirikan koperasi perempuan dan mengelolanya secara profesional,” jelasnya.

Sentra Baras Banuaka

Jarum jam menunjuk angka 10 ketika lonceng sekolah PAUD Taradang di Desa Labian berbunyi dalam ritme yang panjang. Seketika anak-anak berhamburan keluar dari kelas. Sorak-sorai anak-anak sudah menjadi tradisi yang khas di saat mereka hendak pulang ke rumah masing-masing.

Berbeda dengan Marsiana Yulianti. Perempuan 43 tahun itu masih duduk dalam sebuah ruangan. Dia tampak berjibaku dengan tugas-tugasnya sebagai seorang guru di PAUD Taradang. “Biasalah, masih ada kewajiban yang harus dituntaskan,” katanya sambil mengumbar senyum.

Kaum perempuan sedang bergotong-royong di musim tanam padi. Foto: Dok WWF-Indonesia

Selain guru di sekolah anak, Marsiana juga didapuk sebagai pimpinan Sentra Baras Banuaka. Sentra ini lahir dari kesepakatan dua desa di Kecamatan Batang Lupar, yakni Desa Labian dan Sungai Ajung. Sejak berdirinya 2016 lalu, anggota Sentra Baras Banuaka kini sudah mencapai 54 orang petani.

“Banyak manfaat yang sudah kami rasakan sejak sentra ini ada. Kebersamaan di antara kaum Ibu, belajar menata organisasi, dan hasrat meningkatkan perekonomian melalui cara-cara yang profesional,” katanya.

Menurut Marsiana, sentra yang dipimpinnya kini relatif masih baru. Kelompok ini masih butuh banyak pembenahan. Dari tata kelola lembaga hingga landasan filosofis dan strategis dalam memperkuat arah pengembangan organisasi.

“Awalnya, sentra ini dibangun karena persoalan pasar. Kami berladang sendiri-sendiri, jualnya juga sendiri-sendiri. Hal ini menjadikan posisi kami tidak kuat dan tidak ada kepastian harga,” terang Marsiana.

Sistem pemasaran dari hasil produksi yang tidak seragam membuat posisi tawar harga beras petani menjadi rendah. Ibu tiga anak ini menaruh harapan besar sentra yang dipimpinnya mampu meningkatkan posisi tawar harga beras di hadapan pasar.

Proses peningkatan kapasitas ibu-ibu kaum tani yang tergabung dalam Sentra Baras Banuaka. Foto: Dok WWF-Indonesia

Marsiana menjelaskan bahwa petani di Desa Labian dan Desa Sungai Ajung lebih fokus memproduksi beras lokal seperti bali’ dan ase uwe. Beras ini sangat diminati pasar. Bahkan, setiap habis panen selalu habis dibeli orang dari berbagai tempat.

Masalah kami saat ini, kata Marsiana, petani masih berkutat pada produksi yang tidak stabil. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi alam. Kadang, petani mengalami gagal panen akibat musim panas yang berkepanjangan. Selain itu, soal komitmen anggota sentra yang masih menjual beras mereka sendiri-sendiri. “Mungkin harganya lebih mahal dibandingkan dengan menyerahkan ke sentra,” jelasnya.

Marsiana menjelaskan, di tahun 2017 petani Desa Labian dan Sungai Ajung mengalami gagal panen. Akibatnya, Sentra Baras Banuaka absen memamerkan produk beras di ajang Festival Danau Sentarum Betung Kerihun tahun ini. Bahkan, panen beras hanya cukup untuk konsumsi di tingkat rumah tangga saja.

Rentetan persoalan yang dihadapi petani anggota Sentra Baras Banuaka ini mengantar WWF Indonesia Program Kalbar bersama mitranya P4S Pelita Jerora untuk memperkuat kapasitas petani setempat. Di antaranya mencakup arah pengembangan organisasi yang bersifat strategis dan penguatan kapasitas yang bersifat teknis.

“Kami memang sudah dapat bantuan mesin penggilingan padi dari WWF. Tapi anggota sentra masih harus terus ditingkatkan kapasitasnya. Terutama soal tata kelola sentra agar dapat berjalan sesuai harapan,” ucapnya.

Protektor Koridor Labian-Leboyan

Kusmiyati mengumbar senyum. Community Enterprise Officer WWF Indonesia Program Kalbar ini adalah sosok yang paling sering disebut di kalangan anggota sentra, baik kerajinan maupun beras. Dalam sebuah bincang-bincang di Pontianak, Ibu satu anak ini mengemukakan mimpi besarnya di Koridor Labian Leboyan.

“Posisi kaum perempuan sangat penting dalam konteks mewarnai dinamika hidup rumah tangga. Selama ini, sejumlah fakta menyebut bahwa kaum laki-laki mendominasi instrumen hidup sehari-hari. Bahkan, berorganisasi pun melulu yang berperan adalah laki-laki,” kata Kusmiyati.

Identifikasi jenis-jenis daun pewarna alam untuk kerajinan tangan di Koridor Labian Leboyan, Kapuas Hulu. Foto: Dok. WWF-Indonesia

Beranjak dari pengalaman itu, dibuatlah sentra bagi kaum perempuan. Salah satunya Sentra Kerajinan Banuaka. Anggotanya terdiri dari latar belakang etnik yang berbeda. Ada orang Iban, ada pula Tamambaloh. Tapi dari sinilah perbedaan itu terjawab. Bahwa, kerajinan bisa menyatukan mereka.

“Melalui sentra inilah mereka bisa berbagi informasi antar-kampung. Dari informasi yang diperoleh kemudian dengan cepat dapat sampai kepada suami dan anak di rumah. Mereka juga bisa belajar banyak hal. Dari kerajinan, tata kelola lembaga, sampai tata cara berkomunikasi yang baik,” terang Kusmiyati.

Padahal, mereka adalah orang-orang yang sangat tertutup dalam segala hal. Lambat laun, sentra telah membuka cakrawala berpikir mereka. Belajar dari hal-hal kecil seperti berjabat tangan ketika ngumpul dan saling berpelukan.

Di mata Kusmiyati, perilaku yang sudah jamak dilakukan di antara anggota sentra kerajinan itu dapat mengikis gesekan paham di kampung. Misalnya, perselisihan tentang tata batas desa. Juga perburuan satwa yang bisa memicu gesekan dalam bentuk konflik adat. “Konflik semacam ini bisa diredam melalui kekuatan kaum Ibu,” jelasnya.

Kini, kaum perempuan Iban dan Tamambaloh tidak lagi punya sekat pembatas. Mereka lebih berpikir jauh dan positif untuk masa depan anak cucu. Perbedaan yang ada justru menjadi lem perekat persaudaraan.

Hal ini juga tertuang dalam logo Sentra Kerajinan Banuaka. Simbil-simbol manik, anyaman, dan tenunan, menyatu dalam satu bingkai yang indah. Iban dengan simbol tenunan dan anyaman. Sedangkan Tamambaloh dengan simbol manik dan anyaman. Simbol-simbol ini akhirnya lebur dalam satu ikatan kekeluargaan yang kental.

Orangutan sebagai salah satu satwa lindung yang kerap dipelihara warga. Foto: Andi Fachrizal/Kalbarupdates.com

Target lain yang sudah tercapai adalah iklim saling percaya antara orang darat mewakili Tamambaloh dengan orang perairan mewakili Iban. Mereka kini mau saling mengunjungi. Orang Iban di Meliau juga mau menitipkan hasil kerajinannya di sentra yang notabene kebanyakan Embaloh.

“Bahkan, kaum perempuan juga sudah berani angkat bicara dalam organisasi pemerintah desa. Mereka lebur dalam perencanaan pembangunan di kampung masing-masing. Misalnya, mengusulkan pelatihan-pelatihan kerajinan,” terang Kusmiyati.

Jalan panjang pendampingan kaum Hawa ini sesungguhnya berjalan cukup dinamis. Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Tidak mengherankan, sebab mayoritas anggota sentra berlatar pendidikan rendah. Hanya didominasi lulusan SD dan SMP. Makanya, mereka masih terbata dalam meladeni era digital.

Padahal, kaum Ibu ini sudah punya skil manajemen yang memadai. Hanya saja kesempatan untuk “berlari” masih terhalang berbagai hal. “Langkahnya masih tersandung karena ketersediaan wadah berikut legalitasnya. Makanya, ke depan kita akan coba perkuat itu,” jelas Kusmiyati.

Lebih jauh, Kusmiyati juga punya mimpi besar dari sentra ini. Yakni, memproteksi perburuan orangutan lewat kekuatan ibu-ibu. Alasannya sepele. Kaum Ibu yang tergabung dalam sentra adalah kader posyandu dan guru PAUD.

“Kita bisa menitip pesan bahaya makan daging orangutan. Jadi ada kampanye orangutan yang bisa disusupkan di setiap agenda kesehatan. Sama halnya di sektor pendidikan. Kita juga bisa berkampanye penyelamatan orangutan melalui media buku atau mainan,” kunci Kusmiyati. (R-1, bersambung)

Denting Dawai Konservasi di Jantung Kalimantan