SHARE
Elektabilitas Paslon Tidak Tergantung Hasil Debat

PONTIANAK – Debat publik pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kalimantan Barat tahun 2018 memasuki tahap akhir. Seluruh persiapan sudah rampung dilakukan baik materi debat hingga keamanan selama pelaksanaan debat berlangsung.

Di asisi lain, debat kali ini mengambil tema politik, hukum, pemerintahan yang baik dan kualitas pertumbuhan ekonomi daerah membuat asumsi apakah bisa mendongkrak elektabilitas setiap pasangan calon menjelang hari pencoblosan nantinya.

Pengamat politik Ireng Maulana mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada studi otentik yang dapat menunjukkan acara debat kandidat pemilihan kepala daerah memberikan pengaruh pada tingkat elektabilitas setiap pasangan yang berdebat.

“Variabel debat jarang diuji dalam survei elektabilitas. Untuk kepentingan akademis, saya berani mengatakan sehebat apapun para kandidat berdebat dalam acara debat yang diselenggarakan belum berkolerasi pada tingkat elektabilitas mereka” jelas Ireng (21/6/2018).

Alasan yang paling sederhana, debat hanya sebatas tingkat seremonial membacakan kembali visi misi setiap paslon tanpa mempertajaman nalar para kandidat. Sesunguhnya tidak ada debat di dalam acara debat kandidat. Yang ada hanya saling bertanya dan berkonfirmasi tentang cita-cita masing-masing kandidar jika terpilih.

“Selebihnya dalam acara debat hanya saling sindir kecil-kecilan yang minim substansi. Tampilan debat yang belum bertaring dan bergigi seperti inilah yang terekam di memori publik sebagai entertainment bukan sebagai pertarungan ide dan gagasan,” jelasnya lebih lanjut.

Sehingga publik tidak tergerak kesadarannya untuk memilih atau mengubah pilihannya karena tidak menemukan apapun yang penting bagi diri mereka secara kolektif selama acara debat. Yang lebih ekstrem lagi, mereka menilai kandidat yang berdebat, tidak lebih baik antara satu dengan yang lainnya. Sehingga faktor ini lebih jauh menyebabkan acara debat hilang dari memori publik yang memiliki hak pilih.

“Untuk kepentingan menemukan relevansi kualitas debat pada perubahan pilihan memang harus diuji. Kita harus dapat melihat debat menjadi salah satu variabel yang dapat menggoyang keyakinan publik untuk memilih oleh karena alasan bertumbuhnya gagasan yang ditawarkan kandidat,” jelasnya.

Walaupun demikian, pria yang juga menjadi dosen ilmu politik Fisipol Untan ini juga mengatakan sisi positif acara debat ini dengan adanya kemajuan teknologi informasi. Acara debat yang tidak menawarkan gagasan terbaik pun dapat dijadikan instrumen media komunikasi yang efektif di media  sosial.

Dengan memproduksi rekaman debat kandidat yang mereka jagokan memori publik dapat direcall, diingatkan kembali, digiring ulang dan diyakinkan untuk menetapkan pilihan.

“Kita tahu bahwa hanya dengan mengambil bagian dari rekaman debat yang menguntungkan salah satu kandidat, yang diproduksi dengan banyak bentuk kreatif dan menarik, dan cara ini sudah dapat dikatakan taktik media komunikasi digital yang berguna mempengaruhi opini dan pilihan publik yang disasar,” ucapnya.

Terakhir Ireng mengatakan dengan waktu efektif tidak sampai satu minggu untuk melakukan kerja politik bagi kandidat, mereka secara rasional barangkali tidak mengharapkan naiknya nilai elektabiltas pada sesi debat terakhir. Sekeras apapun perdebatan dan selincah apapun endorsemen diri mereka pasca-debat di dunia maya, rasa-rasanya belum akan mengubah secara baik faktor elektabilitas.

“Dengan sisa waktu, penggiringan opini dan perang gagasan sudah memasuki periode senja kala, karena sekarang pertarungan berada di darat dan di kantong pemilih yang sebenarnya. Semoga ada kejutan dan publik tidak harus selalu terpolarisasi oleh hasil survei,” tutupnya. (CRS)