SHARE
Arus Pergerakan Politik dalam Masa Tenang

PONTIANAK – Hiruk-pikuk kampanye pasangan calon yang akan berkontestasi dalam perebutan pucuk pimpinan daerah telah selesai. Atribut peraga kampanye juga sudah bersih dari jalanan.

Meski tak terlihat aktivitas kampanye, masa tenang selalu digunakan sebagai jalur ampuh untuk memastikan dukungan maupun menambah dukungan dengan cara yang tidak wajar.

Pengamat politik Ireng Maulana menyebut pada masa tenang sebenarnya adalah  masa kritis dari keseluruhan kerja politik para kandidat. Dan pada hakikatnya kerja politik belum akan surut hingga penghitungan suara di TPS.

“Masa tenang merupakan saat yang tepat untuk memastikan bahwa kandidat kelihatan akan menang atau akan kalah. Dan melakukan tindakan untuk mengonsolidasi suara pemilih di masa tenang tentu saja dilarang, namun pergerakan untuk memastikan bahwa suara pemilih untuk kandidat tetap saja berjalan,” jelas Ireng di Pontianak, Selasa (26/6/2018).

Semua kandidat calon pemimpin daerah di masa tenang tentu dengan segala upaya yang ada ingin memastikan bahwa wilayah pemilih mereka yang loyal tidak tercerai berai dan solid. Suara pemilih yang telah mereka perhitungkan akan melimpah tentu saja akan diisolasi dan dicegah untuk direbut oleh kandidat calon lainnya.

“Masa tenang adalah masa kritis di mana loyalitas para saksi dipertaruhkan untuk memasang mata yang tajam supaya tidak dicurangi. Bahkan para saksi biasanya diterjunkan lebih awal sebagai simbol bahwa kandidat tertentu sudah pasang personel di zona pertarungan suara,” tambahnya.

Masa tenang merupakan waktu kritis ketika politik uang dapat saja dilancarkan. Indikasi politik uang dapat diasumsikan dengan tindakan jual beli suara atau membayar pemilih untuk tidak pergi mencoblos sehingga kandidat tertentu kehilangan para pemilih loyalnya.

“Selain indikasi politik uang, juga memungkinkan adanya intimidasi, ancaman bahkan kekerasan juga dapat terjadi dengan tujuan memaksakan untuk memilih kandidat atau tidak memilih kandidat tertentu,” kata Ireng.

Lebih lanjut, pria yang juga dosen di Fisipol Untan ini mengatakan bahwa sebagian politisi menyakini, pergerakan di masa tenang dapat mengubah peta dukungan. Sehingga tercipta kerja politik secara tersembunyi namun tetap elegan akan berlangsung hingga penghitungan suara.

“Barangkali bagi sebagian dari kita menyangka masa tenang adalah waktu istirahat setelah hingar-bingar masa kampanye. Nyatanya masa tenang adalah tipping point bagi pergerakan modal yang ingin mengalirkan dukungannya kepada kandidat potensial yang mereka anggap akan menang,” tegasnya.

Masa tenang adalah titik akhir pertarungan menuju penghitungan suara. Kandidat pasangan calon yang mampu memaksimalkan segenap kemampuan kerja politik dan logistik mereka di masa tenang biasanya akan lahir sebagai pemenang di akhir pertarungan. (CRS)