SHARE
Jokowi Minta Satgas Covid-19 Ajak Tokoh Agama Ubah Perilaku Masyarakat
Jokowi dan Prabowo berbalas status di media sosial (Instagram/jokowi)

Suara.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memprioritaskan perubahan perilaku masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, melalui program sosialisasi dan komunikasi yang lebih efektif.

Hal ini dikatakan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo seusai menghadiri rapat terbatas pengarahan Presiden kepada Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) secara virtual di Istana Merdeka, Senin (27/7/2020).

“Telah ditugaskan oleh bapak Presiden tentang prioritas perubahan perilaku melalui program sosialisasi dan komunikasi yang lebih efektif,” ujar Doni.

Karenanya pihaknya akan meningkatkan kolaborasi berbasis komunitas yang melibatkan tokoh daerah, tokoh masyarakat, pemuka agama, antropolog dan psikolog yang diprioritaskan di delapan provinsi.

Delapan provinsi tersebut yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Papua yang memberikan kontribusi sebesar 78 persen kasus positif Covid-19 di Indonesia.

“Oleh karenanya, Satgas Penanganan Covid-19 akan meningkatkan kolaborasi pentahelix berbasis komunitas dengan menitikberatkan kepada peran-peran dari tokoh-tokoh daerah, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat dan pelibatan antropolog, juga psikolog yang diprioritaskan kepada delapan provinsi yang tadi sudah dijelaskan,” kata dia.

Doni menuturkan melihat sejarah di masa lalu, terjadi wabah Flu Spanyol di Pulau Jawa pada periode Maret 1918 sampai September 1919. Dari catatan yang diterima pada waktu itu, jumlah warga Indonesia yang terkena wabah flu Spanyol mencapai 4 juta jiwa.

“Kemudian juga melihat sejarah masa lalu terakhir dengan wabah flu Spanyol yang terjadi pada periode Maret 1918 sampai dengan September 1919. Nah di Pulau Jawa saja sesuai catatan yang kami terima dari Universitas Michigan, korban jiwa untuk masyarakat kita yang waktu itu di bawah pemerintahan Hindia Belanda sampai empat juta jiwa,” ucap dia.

Karena itu, pemerintah belajar dari pengalaman saat pemerintah kolonial belanda melakukan terobosan merubah perilaku masyarakat melalui pendekatan budaya seperti melalui kegiatan wayang.

“Ini suatu peristiwa yang harus kita petik pelajarannya dari kasus tersebut, di mana pada akhirnya pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan terobosan merubah perilaku masyarakat melalui pendekatan budaya yaitu memberikan penjelasan kepada masyarakat melalui kegiatan wayang,” kata Doni.

Kepala BNPB itu mengaku akan merumuskan strategi komunikasi dan sosialisasi yang lebih efektif sampai ke tingkat desa.

“Kami mencoba untuk merumuskan suatu strategi komunikasi dan sosialisasi yang lebih efektif yang arahnya adalah sampai ke tingkat desa. Sehingga diharapkan tingkat kepatuhan masyarakat menjadi lebih baik,” katanya.

Sumber: Suara.com