SHARE
Kematian 21 Penyu Kejadian Luar Biasa
Tim dokter hewan melakukan nekropsi terhadap penyu yang mati dan terdampar di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Foto: Dok. BKSDA Kalbar

PONTIANAK – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat melansir kematian 21 ekor penyu di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kematian satwa purba itu terdeteksi selama kurun waktu Februari hingga April 2018 mendorong pemerintah menetapkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Kepala BKSDA Kalbar Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan dalam satu kali patroli ditemukan sekaligus 10 ekor penyu mati terdampar di bibir Pantai Sungai Belacan pada 6 April 2018. “Keesokan harinya ditemukan lagi satu penyu mati. Jadi totalnya sebelas penyu yang mati di bulan April,” katanya dalam konferensi pers di Kantor BKSDA Kalbar, Senin (9/4/2018).

Dua bulan sebelumnya, Februari – Maret 2018, kejadian serupa juga terjadi. Sebanyak 10 ekor penyu meregang nyawa dan terdampar di Pantai Paloh. Sadtata merasa prihatin atas kejadian tersebut.

Menurutnya, itu baru penyu yang ditemukan tewas terdampar. Belum lagi yang tenggelam. Dirinya pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres, sehingga pada saat menerima laporan itu, BKSDA Kalbar langsung menurunkan tim dari Pontianak dan melakukan pembedahan pada hari itu juga.

“Hasil nekropsi, penyu-penyu ini terindikasi menelan aspal. Kita juga belum tahu dari mana asal-usul aspal ini, karena itu lautan lepas. Itu yang akan kita tidak lanjuti,” jelasnya.

Dalam beberapa waktu ke depan, BKSDA Kalbar telah merencanakan beberapa langkah lanjutan, seperti mengumpulkan data dan informasi terkait asal-usul aspal dan sampah yang mencemari perairan sekitar pesisir Paloh. Kemudian akan mengajak masyarakat untuk melakukan bersih-bersih pantai.

“Terkait penyelamatan penyu dalam jangka panjang, kami sudah membuat fasilitas suaka penyu. Kami ingin suaka penyu itu dikelola oleh masyarakat. Harapan kami penyelamatan penyu di Paloh nanti masyarakat yang menjadi pemeran utama,” harapnya.

Kepala Seksi Pendayagunaan dan Pelestarian BPSPL Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alqadri menuturkan kematian penyu ini menjadi suatu terobosan untuk percepatan terbitnya Kepmen untuk kawasan Pantai Paloh menjadi Kawasan Strategis Nasional.

“Jadi sekarang kawasan Paloh itu sudah dicanangkan oleh Gubernur Kalbar untuk menjadi kawasan strategis nasional. Dengan adanya kejadian ini kita akan mempercepat itu,” ungkapnya.

Kasi Wilayah III Pontianak, Balai Gakum Kalimantan David Muhammad menyatakan pihaknya akan membentuk tim untuk memastikan kejadian yang sebenarnya. Kenapa penyu itu bisa mengonsumsi aspal dan dari mana aspal itu terjadi.

“Biasanya di Paloh itu penyu diambil telurnya, ini malah terkena limbah aspal. Kalau memang ada tindak pidananya di sana, itu akan kita proses hukum sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegas David.

Ia mengaku, Gakum Kalimantan sangat memperhatikan status KLB ini. Seperti diketahui, bahwa bulan April ini adalah fase awal bulan penyu bertelur, tentunya akan banyak yang mati kalau memakan aspal.

“Kita harus bisa mengungkapkan kasus ini dengan serius. Yang kita cari asal curahnya dulu berasal dari mana. Nanti tim kami yang mungkin bersama-sama dengan instansi lain,” ucapnya.

Dari penyelidikan tim, pihaknya akan melihat lagi apakah unsur kelalaian atau sengaja. Dari kedua unsur itu pun, tetap ada sanksi hukumnya. “Nanti akan ada pengembangan. Untuk saat ini sudah ada bukti dari saluran pencernaan penyu itu yang menguatkan kami,” terang David.

Kejadian penyu mati di sepanjang pesisir Pantai Paloh ini juga mengundang perhatian Dwi Suprapti, Koordinator Nasional untuk Konservasi Spesies Laut WWF-Indonesia. Dokter hewan ini pun terjun langsung ke Pantai Paloh bersama tim dokter hewan dari BKSDA Kalbar.

“Dari kesimpulan kita didominasi adalah penyu yang berukuran muda, meskipun ada yang dewasa. Selebihnya penyu muda yang berukuran masih di bawah 50 cm, dan terkecil 20 cm,” katanya.

Dwi menjelaskan, berdasarkan hasil nekropsi penyu itu mati dalam keadaan mendadak. Hal itu dibuktikan dengan masih ada pakan di dalam saluran pencernaan yang ditempeli oleh material berwarna hitam menyerupai aspal. “Sehingga bisa disimpulkan sementara bahwa kematian penyu ini akibat keracunan diduga aspal,” sebutnya.

Selain itu, aspal juga ditemukan terdampar di pantai bersama dengan penyu yang mati. Pihaknya sudah melakukan survei udara menggunakan kamera drone namun belum menemukan titik hitam di sekitar tempat kejadian perkara.

“Kita hanya menemukan sebaran aspal di pantai, dan menemukan gumpalan aspal di botol-botol plastik sampah. Karena aspal ini sifatnya melekat sehingga material menempel di usus halus penyu,” terang Dwi.

Untuk 10 penyu yang ditemukan sebelumnya, Dwi mengaku dari tiga yang dinekropsi, hasil dari dua ekor penyu kuat terindikasi oleh aspal karena ditemukan bukti fisik gumpalan aspal yang menempel di saluran pencernaan.

“Yang satunya terdampar hidup. Kematiannya disebabkan oleh mal nutrisi akibat tersumbatnya saluran pencernaan. Saya juga temukan plastik yang menyumbat saluran pencernaan penyu. Akhirnya mati juga,” kata Dwi.

Alumni Universitas Udayana Bali ini mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum yang bertugas di perairan sekitar Pantai Paloh. Satu di antaranya, meminta bantuan kepada pasukan TNI AL ketika patroli sembari memantau di mana asal-usul aspal yang mencemari perairan Pantai Paloh ini. (NAN)