SHARE
DLH Ingatkan Bahaya Mikroplastik
Tumpukan sampah yang membaur dengan plastik konvensional menjadi tantangan masa depan Kota Pontianak. Foto: NAN/Kalbarupdates.com

PONTIANAK – Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak mengingatkan bahaya mikroplastik jika masuk ke dalam tubuh. Salah satu dampak yang bisa ditimbulkan bagi manusia adalah kanker, penyakit tumor ganas yang bisa berujung pada kematian.

Peringatan ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Sri Sujiarti menyusul tantangan limbah plastik yang kian besar. “Mikroplastik dimakan oleh hewan konsumsi seperti ikan. Selanjutnya manusia mengonsumsi ikan. Tanpa disadari mikroplastik pun masuk ke dalam tubuh manusia. Efeknya sangat berbahaya bagi kesehatan,” katanya di Pontianak, Sabtu (7/4/2018).

Rantai makanan yang dimaksud oleh Sri ini tidak lebih dari sebuah rambu-rambu untuk mengingatkan betapa berbahayanya sampah plastik bagi kelangsungan hidup manusia. Sampah plastik bersumber dari manusia, kemudian dimakan oleh ikan dan pada akhirnya sampah itu kembali kepada manusia.

Bagi Sri, perkara plastik adalah tantangan masa depan Kota Pontianak. Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan inisiatif cerdas agar perilaku hidup kurang ramah lingkungan ini tidak menggilas peradaban.

Salah satunya dengan mengimbau kepada pengusaha ritel dan supermarket untuk menggunakan plastik mudah terurai atau plastik bio-degredeable. Ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk menyemarakkan Bulan Bersih Sampah sebagai salah satu program yang dicanangkan pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Kita sudah minta komitmen dari pengusaha ritel atau supermarket di Kota Pontianak untuk mengubah plastik konvensional yang digunakannya selama ini menjadi plastik bio-degradable,”  kata Sri.

Dia menjelaskan bahwa plastik bio-degredeable adalah plastik yang mudah terurai. Plastik itu memiliki jangka waktu satu tahun untuk terurai dan hancur. “Jadi tidak seperti plastik konvensional yang tak bisa diuraikan dalam tanah. Pihak supermarket sendiri yang menyediakan plastiknya,” jelas Sri.

Lebih jauh Sri menuturkan sejumlah opsi sudah dibicarakan sebelum menyepakati plastik bio-degredeable ini. DLH juga mengusulkan agar ada pengurangan penggunaan plastik, seperti dengan menjual tas yang bisa dipakai ulang. Selain itu, kerja sama dengan Bank Sampah bisa dijajaki untuk menyediakan tas yang bisa dipakai ulang itu.

“Pengusaha tidak mau kalau tidak memberikan kantong plastik ke konsumen. Jadi agak susah juga sebab pengusaha akan dimarahi konsumen,” tuturnya.

Dari pengalaman beberapa daerah yang jadi pilot project penerapan kantung plastik berbayar tahun 2016, pengusaha malah dicecar dan dimarahi konsumen. Akhirnya kebijakan itu hanya mampu bertahan sebulan saja. “Ada sebulan begitu, akhirnya tidak bayar lagi. Ini jadi acuan supermarket lain,” katanya.

Akhirnya jalan tengah diambil, pengusaha ritel dan supermarket tetap akan memasukkan plastik sebagai bagian dari pelayanan mereka. Namun dengan mengusahakan menggunakan plastik yang mudah terurai. (NAN)