SHARE
Para Saksi Jelaskan Dugaan Pelanggaran Pilkades Rasau Jaya Umum
Ahmad (64) menunjukkan uang yang diberikan kepada keluarganya tepat sehari sebelum pemungutan suara Pilkades Rasau Jaya Umum. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

RASAU JAYA – Laporan dugaan politik uang pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Rasau Jaya Umum (RJU), Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, masih berproses di tingkat Panitia Pemilihan Kepala Desa (PPKD) dan Panwas Desa RJU. Hari Senin (2/12/2019), Panwas Desa RJU memeriksa sejumlah saksi dari kedua belah pihak di ruang LPM RJU.

Saksi pertama yang diperiksa ialah Ahmad (64). Warga Patok 50 ini merupakan saksi yang menguatkan adanya praktik dugaan politik uang yang disamarkan dalam bentuk surat mandat.

“Saya dipanggil sebagai saksi. Tadi diperiksa terkait surat mandat,” kata Ahmad seusai pemeriksaan.

Ahmad bercerita bahwa sebelum proses pemungutan suara, ada yang memberi keluarganya surat mandat. Ia mengaku mengingat betul kalau empat surat mandat itu diberikan melalui bawah pintu rumahnya pada Kamis (14/1/2019). Keesokan harinya (Jumat, 15/11/2019), sambung Ahmad, ada yang datang ke kediamannya memberikan uang tunai sebanyak Rp200 ribu.

“Saya awalnya tidak tahu. Setelah itu baru datang Pak Ateng ke rumah. Ternyata dia yang kasih surat mandat. Malam Sabtu, dia datang kasih uang untuk empat orang yang ada dalam rumah. Masing-masing Rp50 ribu,” jelasnya.

“Setelah terima uang, saya tanya Pak Ateng, nyucok (coblos, red) nomor berapa? Kata dia nomor dua,” sambungnya.

Di hari pencoblosan, Sabtu (16/11/2019), Ahmad dan ketiga anggota keluarganya datang ke TPS untuk memberi hak pilih. Namun, tak seperti pemantau pada umumnya yang menunggu TPS hingga penghitungan selesai, Ahmad dan anggota keluarganya justru langsung pulang ke rumah. Dengan kata lain, mereka tidak jadi pemantau.

“Saya tidak ada jadi pemantau. Setelah coblos, langsung pulang,” imbuhnya.

Ahmad mengaku uang yang diberikan Ateng sampai saat ini masih utuh. Uang itu rencananya akan Ia kembalikan ke Panwas RJU.

“Uangnya masih ada sampai sekarang. Mau saya kembalikan,” ucap Ahmad sembari menunjukkan empat lembar uang pecahan Rp50 ribu.

Di tempat yang sama, Heru Widodo juga diperiksa sebagai orang yang bertanggung jawab atas pendistribusian surat mandat kepada sejumlah warga. Ia diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi dari pihak cakades nomor urut 02 Iwan Kurnia Putra.

“Saya diperiksa mengenai surat mandat. Ditanya apa benar memberi surat mandat. Saya jawab benar. Karena memang saya yang memberi surat mandat tanpa unsur paksaan. Saya tanya warga, siapa yang mau jadi tim sukses, saya kasih mandat,” ujar Heru.

Ia menegaskan surat mandat itu diberi kepada warga yang benar-benar mau menjalankan tugas sebagai pemantau atau tim. Ia juga menerangkan kalau selama diperiksa, Ia hanya dicecar pertanyaan seputaran surat mandat yang Ia berikan.

“Saya hanya menjalankan tugas dari Ketua Tim Pemenangan sebagai koordinator pengawasan penyaluran surat mandat. Tadi saat pemeriksaan hanya seputaran surat mandat. Kapan diberikan. Saya jawab memberikan sesuai aturan, sebelum masa tenang. Dan, saya tanya ada gabung dengan tim siapa. Semua mengaku belum ada. Makanya, saya tawarkan mau tidak bergabung ke tim 02. Warga jawab mau, saya kasih mandat. Ternyata di luar dugaan. Itu urusan dialah,” tuturnya.

Ditanya mengenai waktu pemberian uang transportasi kepada warga, Heru mengaku memberikannya setelah warga menerima surat mandat. Ia membantah kalau uang transportasi diselipkan bersama dengan surat mandat.

“Kalau surat mandat diselipkan dana, nggak ada. Saya berkabar Insyaallah nanti ada uang minyaknya karena mereka bertugas dan bekerja. Itu saja yang saya janjikan,” ucapnya.

Turut hadir Dedek Hermansyah, Ketua Tim Pemenangan Cakades Nomor Urut 02 Iwan Kurnia Putra. Kepada awak media, dirinya menyatakan bahwa pihaknya selalu siap memberikan keterangan saat diminta oleh Panwas dan PPKD.

“Kita selalu siap sesuai peraturan yang berlaku,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PPKD RJU Taufik tak dapat memberikan keterangan saat hendak diwawancarai. “Nanti, kami masih ada urusan di kecamatan,” cetusnya singkat.

Untuk diketahui, pemeriksaan ini merupakan tindaklanjut dari laporan tiga cakades, yakni calon nomor urut 01 Nanang Suhartono, calon nomor urut 04 Somad dan calon nomor urut 05 Wanda. Adapun cakades yang dilaporkan atas dugaan politik uang ialah tim sukses cakades nomor urut 02 Iwan Kurnia Putra yang notabene merupakan kades terpilih.

Modus dugaan politik uang yang dilakukan oleh cakades nomor urut 02 ialah memberi sejumlah uang kepada warga dan disamarkan dengan pemberian surat mandat sebagai pemantau kepada penerimanya.

Surat mandat sebagai pemantau itu juga dirasa tidak diberikan kepada orang yang tepat. Pasalnya, surat mandat itu diberikan kepada pemilih yang usianya rata-rata di atas 65 tahun. (NAJ)