SHARE
Bersih-bersih pantai menjadi salah satu bagian dari Gerakan Menghadap Laut. Foto: Dok Panitia Gerakan Menghadap Laut

SAMBAS– Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas dirayakan dengan cara tak biasa. Kali ini, sejumlah elemen menggelar aksi sosial yang dinamai Gerakan Menghadap Laut.

Diinisiasi oleh WWF Indonesia, Pokmaswas Kambau Borneo, Pokmas Wahana Bahari dan 16 lembaga lainnya turut berpartisipasi pada aksi sosial memungut sampah yang dipusatkan di Pantai Peneluran Penyu Paloh, tepatnya di Pos Monitoring Penyu Sungai Belacan Paloh. Tak tanggmenghadapung-tanggung, 60 orang peserta pada kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan 114,2 kg sampah yang terdiri dari plastik lunak sebanyak 27,5 kg, plastik keras 32 kg, kertas sebanyak 2,2 kg, karet sebanyak 14,5 kg, tekstil 8 kg, kayu olahan 3 kg, logam 4,1 kg, kaca/keramik 19,5 kg dan B3 sebanyak 3,4 kg. 

“Menghadap Laut adalah momen berharga untuk masa depan anak cucu kita. Sebanyak 16 lembaga terlibat di dalam pelaksanaan dengan jumlah peserta 60 orang. Kegiatan ini sejatinya dihadiri Wakil Bupati Sambas. Namun, dikarenakan ada perubahan agenda beliau batal hadir dan sudah memberikan konfirmasi,” jelas Anggota Pokmas Wahana Bahari Paloh yang juga sebagai Enumerator Penyu BPSPL Pontianak Zulfian dalam keterangan pers yang diterima oleh redaksi, Selasa (20/8/2019). 

Sementara itu, Gerakan Menghadap Laut pada tahun ini digelar serentak di 108 titik di seluruh Indonesia. Di tahun 2019, gerakan tersebut dipusatkan di Pantai Timur Kelurahan Ancol Jakarta. Adapun agenda yang dilakukan antara lain membersihkan laut, menghadap laut serentak dengan 108 titik di seluruh Indonesia, menyanyikan lagu Padamu Negeri dan makan ikan bersama. 

Perhelatan Gerakan Menghadap Laut ini dilakukan dengan melibatkan berbagai kalangan, mulai dari Pandu Laut Nusantara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Yayasan EcoNusa, 300 komunitas, organisasi, perusahaan swasta, BUMN dan pemerintah daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. Gerakan yang baru kedua kalinya digelar ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat Indonesia bahwa laut merupakan masa depan bangsa.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Kepada peserta, dirinya menyampaikan banyak hal, mulai dari seruan agar masyarakat benar-benar menjaga lautan dari pencuri ikan sampai dengan mengajak supaya tidak membuang sampah ke laut.

“Oleh karena laut adalah masa depan bangsa, saya mengimbau segenap elemen bangsa untuk turut menjaga lautan Indonesia. Bukan hanya dari para pencuri ikan, tetapi juga dari kegiatan destructive fishing, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan yang tak kalah penting cemaran sampah laut terutama sampah plastik. Jangan ada lagi yang membuang sampah ke laut dan kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Laut milik bangsa, yang harus menjaga bukan hanya pemerintah atau pandu laut saja, tetapi kita semua,” tutur perempuan yang dikenal dengan gaya nyentrik itu.

Terhadap persoalan kelestarian laut, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Hariadi Kartodihardjo juga membenarkan bahwa laut merupakan bagian vital kehidupan. Selain menjadi media sirkulasi air, laut juga menjadi pengatur siklus hidup wilayah daratan. Untuk itu, lingkungan hidup laut menjadi penopang sosial ekonomi masyarakat. 

“Meski masyarakat tahu betapa vital fungsinya bagi kehidupan, kebanyakan orang enggan menggunakan pengetahuan tersebut untuk bertindak,” pungkasnya. (NAJ)