SHARE
Puisi Esai, Atraksi Sastra

Oleh Abroorza Ahmad Yusra

Ketika ada seseorang bernama Denny JA memproklamirkan diri sebagai pencetus genre baru, lantas menganggap diri sebagai sastrawan berpengaruh, saya tepuk tangan. Bagi saya, itu hanya sebuah lelucon dalam dunia kepenulisan (bukan sastra). Saat ditanya, dari sisi mana ia berpengaruh, ia dan kaum pembelanya, berkata “lihatlah, viewer link puisi esai dilihat jutaan orang. Lihatlah, para penyair berbondong-bondong kini menulis puisi esai”.

Benar-benar lelucon. Ia beranggapan bahwa ‘berpengaruh’ dapat diindikasikan dengan jumlah viewer dan adanya pengikut. Semakin lucu karena, konon, ada indikasi permainan uang (begitulah yang saya dapati dari semua berita maupun opini tentangnya).

Sudah banyak yang memaki-maki soal permainan uang. Jadi, tidak perlu kita bahas. Juga, sudah banyak yang melemparkan padangan, penelitian, dan macam-macam teori bahwa puisi esai bukanlah sesuatu yang baru.

Yang mungkin bisa kita cerna adalah, jika kita percaya bahwa esensi sastra adalah perjuangan pembermaknaan, maka genre puisi sesungguhnya bukanlah sesuatu yang substansial. Genre puisi, jenis puisi, apapun itu sebutannya, merupakan dampak dari upaya seseorang menemukan dan memperjuangkan pembermaknaan. Genre puisi bukan sebuah tujuan. Pembermaknaan, itulah tujuan.

Saat seorang Chairil Anwar mencetuskan gaya penulisan yang tidak baku, menggunakan bahasa keseharian yang mungkin berkembang, hal itu disebabkan lebih karena ia tidak dapat melakukan pembermaknaan terhadap realita yang diangkatnya, jika terpatri pada struktur lama. Struktur lama yang dimaksudkan di sini adalah pantun (meski di beberapa puisinya, seperti “Derai-Derai Cemara”, ia menggunakan pola, tapi meninggalkan sampiran, langsung ke isi). Ia mencoba pembermaknaan pada gaya-gaya baru, yang sebagian mengadopsi soneta. Semua usaha itu, membuat ia manjadi penyair yang mampu memberikan makna, juga melahirkan makna baru.

Orang mengikutinya, bukan karena ia bersusah payah memproklamirkan diri sebagai penemu gaya baru (apalagi dengan bantuan duit, sayembara, dan youtube). Ia diikuti karena perjuangan pembermaknaan yang ia lakukan.

Sistem kerja esensi sastra, kurang lebih seperti ini:

Lewat sastra, makna ditemu-ciptakan. Realita, bahasa, estetika, ketiganya menjadi piranti pergulatan tanda, penanda, petanda, tempat para pelaku sastra menemu-ciptakan makna. Bisa jadi, ada makna baru yang muncul dari kegiatan pilin-memilin ini. Esensinya, sastra menjadi kegiatan menemukan dan memperjuangkan pembermaknaan terhadap segala hal, termasuk diri kita.

Dari ‘penemuan’ itu, pembermaknaan itu, maka terlahir pemikiran baru, pemahaman baru, dan dampaknya, orang-orang melihat dengan matanya, berpikir dengan caranya, dan secara sadar mau pun tidak, mengikutinya. Itulah yang telah dilakukan Chairil Anwar dan sastrawan lain yang sungguh-sungguh beribadah lewat sastra.

Pembermaknaan, tidak menutup kemungkinan lahirnya gaya atau genre baru. Ini pula yang mendasari mengapa ada genre puisi, ada novel, ada cerpen, ada drama. Setiap sastrawan memiliki cara untuk melakukan pembermaknaan, dan pada suatu genre, atau lebih, ia merasakan keleluasaan untuk maksudnya itu. Genre hanya dampak. Makna adalah inti.

Pembermaknaan yang baru, yang mampu membuat pembaca melihat realita dengan cara yang lain, itu yang tidak saya dapati dalam puisi-puisi esai. “Atas Nama Cinta” yang dijadikan senjata sebagai genre baru sastra, ternyata tidak menawarkan pembermaknaan baru. Tema atau isu yang di dalam “Atas Nama Cinta”, berkutat pada masalah diskriminasi sosial, etnis, agama, dll, dan atas nama cinta, semua itu bisa teratasi. Saya tidak bilang buruk, tetapi, tentu itu bukan hal yang baru. Cinta tak bisa dikalahkan. Cinta tak bisa ditaklukkan. Cinta tak bisa dihancurkan. Cinta adalah segalanya, wah. Anak remaja yang sedang jatuh cinta pun bisa melakukan itu. Lagi pula, zaman romantisme sudah jauh berlalu.

Selain itu, dalam penelusuran saya mengenai polemik puisi esai, tidak saya temukan pembahasan yang mendalam dalam pembicaraan tentang puisi esai. Memang ada yang mencobanya, tetapi, penafsiran berhenti di satu titik dan tidak membuka ruang untuk pencarian makna lain. Mati. Lalu, mayoritas pemberitaan atau opini, hanya berkutat pada genre, genre, genre, dan semua mengarah pada dagangan dan politik berkesenian. Pada orangnya. Bukan pada karyanya.

Sebab itu, saya tidak beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Denny JA, penulis “Atas Nama Cinta” telah bisa dikategorikan sebagai upaya bersastra. Jika disebut bahwa ia menyampaikan perasaan dan pemikirannya terhadap kondisi sosial, dengan membuat tulisan seperti puisi yang ditambahi catatan kaki, mungkin benar. Tetapi, belum dalam tahap bersastra. Apa yang telah dilakukan oleh Denny JA tidak memberikan memunculkan suatu hal yang bisa kita anggap sebagai pemaknaan baru.

Yang baru bagi saya, hanya di wilayah pemasaran. Denny JA dan, entah kawan entah suruhan, melakukan inovasi marketing dalam promosi karyanya dengan menitikberatkan ‘puisi esai’ sebagai branding. Apakah ia menggunakan kekuatan duit untuk mencari pengikut, apakah ia memanipulasi publik dengan mengatakan diri sebagai sastrawan berpengaruh, ah, itu urusan dia dan Tuhan. Kalau cara-cara curang itu memang dilakukan, azab kubur dan azab sejarah akan menanti. Kalau ternyata ia benar, ya sudah, terima saja.

Aih, atau, jangan-jangan saya yang terlalu naif. Mungkin sebenarnya, Denny JA dan, entah kawan entah suruhan, sudah memberikan pengaruh: sastra hanya bagian dari atraksi kesenian, seperti kecenderungan yang terjadi dalam semua jenis kesenian, dari seni gerak hingga seni gerak. Publik tidak perlu lagi memahami substansi. Peduli amat dengan esensi. Sorak sorai lebih penting, angka-angka lebih menentukan, dan, siapa yang tidak sepakat bahwa semua itu membutuhkan biaya? Layaknya konser musik. Semakin besar, semakin keras, semakin sorak sorai itu bergemuruh. Padahal yang konser hanya band karbitan modal tampang. Karya yang buruk sekalipun, kalau dipasarkan dengan oke, bisa jadi atraksi yang luar biasa bukan?

Ya, mungkin semua itu punya pengaruh, namun tidakkah yang berpengaruh belum tentu bermakna?

*Penulis adalah penggiat Forum Sastra Kalbar