SHARE
Perempuan Melayu Terakhir

Oleh Bang Qodja

MARWAH namanya, datang dari kampung atau kecamatan kecil bernama Serimbu. Jauh dari jantung Ibu Kota Kabupaten Landak, Ngabang. Ayahnya sosok bersahaja bernama Arman, bekerja sebagai juru tulis di kantor Kecamatan Serimbu. Ibunya Soudah, mengajar di sebuah Madrasah Ibtidayah As Salam, satu-satunya Madrasah Islam di kecamatan tersebut.

Untuk menuju Serimbu bukan urusan mudah. Kita akan meniti medan berat, kerikil-kerikil tajam, batu-batu cadas yang terhampar tidak beraturan di sepanjang jalan dan ngarai yang mengawal setiap perjalanan. Membikin siapapun yang melintas akan bergoyang nyalinya jika tidak berhati-hati.

Saya mengenal Marwah ketika menghadiri acara sosial bertema pendidikan. Marwah berkuliah di IAIN Pontianak Jurusan Tarbiyah. Di awal masa kuliahnya, Marwah sempat menumpang di rumah kerabat jauhnya di daerah Siantan. Sebelum berangkat kuliah, Marwah berkhidmat untuk membantu keluarga kerabatnya. Urusan rumah tangga seperti membersihkan rumah, mencuci piring, membeli keperluan dapur, memasak hingga mengasuh anak kerabat dilakoninya. Upaya menjaga adab sebagai orang yang menumpang.

Untuk ke kampus Marwah menggunakan angkot. Dalam aktivitas kampusnya, Marwah membatasi diri hanya aktif di perkuliahan tanpa sempat ikut LDK, HMJ dan organisasi eksternal Kampus. Nyaris semua waktunya habis tersita untuk pekerjaan rumah tangga kerabatnya. Kecuali untuk urusan kepanitiaan dalam beberapa agenda, marwah kadang melibatkan diri. Itupun dalam rangka menunaikan kewajibannya sebagai mahasiswa baru.

Dalam sebuah agenda bertema pendidikan, dimana Marwah sebagai panitia inilah untuk pertama kali saya bersua Marwah. Waktu itu saya masih aktif sebagai Instruktur pembantu di sebuah lembaga kursus bahasa. Terkadang saya diminta menjadi pembicara pelapis jika instruktur utama yang diundang berhalangan hadir dan waktu itu saya hadir dalam kapasitas sebagai pembicara pengganti.

Momen pertama yang membuat Marwah menjadi pusat perhatian adalah aksinya di penghujung agenda diskusi, beberapa jenak setelah saya menyelesaikan sharing dan hendak ditutup oleh MC. Marwah memberi isyarat untuk izin berbicara.

Sekejap seisi ruangan senyap, mengedarkan pandang kepadanya dan Marwah mulai membuka pembicaraan dengan ketukan retorika seadanya, berusaha menggugah setiap peserta untuk menyisihkan uang saku mereka agar disumbangkan kepada seorang temannya yang nyaris berhenti kuliah karena kebun jeruk orang tuanya di Sambas gagal panen, hingga akhirnya hasil uang tersebut terkumpul banyak dan dihibahkan kepada temannya itu.

Setelaha agenda, Marwah satu-satunya orang yang menindaklanjuti usulan dalam diskusi. Saya lantas ditawari marwah untuk bekerja sama menjadi pengajar Bahasa Inggris privat di rumah kerabatnya. Semua peserta adalah anak dari tetangganya, saya jawab tawaran tersebut dengan hanya mampu berpartisipasi di awal, pertengahan dan akhir pertemuan saja karena saya belum punya cukup waktu kala itu. Sisanya saya serahkan kepada Marwah sendiri yang mengaku memilki kemampuan Bahasa Inggris yang terbatas.

Suatu ketika saya dapat amanah dari dosen untuk mengelola bisnis rumah kos yang terletak di Jalan Sepakat 2 Gang Mawar. Kami menyewa satu gedung kos untuk kami sewakan kembali kepada mahasiswa yang datang dari daerah.

Setelah beriklan di sekitar kampus, tak butuh waktu lama bagi kos untuk penuh. Semua penghuninya adalah mahasiswi maka saat itu berketepatan kami sedang membutuhkan petugas wanita untuk menunggui rumah kos. Dan Marwah figur yang cocok untuk mengurusi kos itu.

Saya menawarkan Marwah untuk pindah dari rumah kerabatnya ke Rumah Kos, dengan “klausul akad” bahwa dia berhak menempati satu kamar dari total 11 kamar secara gratis. Tapi kewajiban seperti menunggu calon penghuni, dan kebersihan kos menjadi tanggung jawabnya. Marwah menyanggupinya setelah melewati negosiasi alot dan diberikan izin oleh kerabatnya.

Bagi Marwah, ini adalah kesempatan baginya untuk tidak menyusahkan kerabatnya lagi, jalan keluar menuju kemandirian sekaligus membuka kesempatan silaturahmi dengan teman di luar kampusnya. Lokasi kos tersebut terletak di daerah Sepakat Untan maka secara otomatis para penghuni kos tersebut adalah mahasiswi Untan. Marwah juga bisa memangkas jarak ke kampusnya tanpa perlu melintasi dua jembatan Sungai Kapuas.

Marwah tidak serupa keumuman perempuan yang feminim. Ia lebih terlihat acuh dan slengekan. Ada banyak pekerjaan yang menjadi domain laki-laki yang bisa dilakoninya dengan baik ketika menjadi penjaga kos, seperti membenarkan lampu, membetulkan saluran air, serta mengusir laki-laki yang ngapel ke salah satu penghuni hingga larut malam.

Meski demikian, Marwah punya aura keibuan kuat yang terendus oleh seorang bocah lelaki. Entah asalnya dari mana, anak yang berusia dua tahun tersebut suka berdiam diri di depan pintu kos. Awalnya ketika hendak berangkat kuliah dan melihat anak itu, Marwah spontan membelai kepalanya dan menyapa, “Assalamu’alaikum…”

Ternyata sentuhan tersebut membekas begitu dalam pada diri anak itu. Hampir setiap hari, di jam-jam tertentu ketika Marwah akan berangkat atau pulang kuliah, ia sudah berada di depan pintu menanti Marwah, sebab anak itu enggan berdekatan dengan mahasiswi lainnya.

Karena tidak tahu siapa namanya, Marwah selalu memanggilnya “Islahuddin”, artinya sosok yang selalu memberikan perbaikan jika ada yang melenceng dari pengamalan Dien.

Bagi Marwah, nama adalah do’a seperti defenisi ulama’ “Al Ismu Yadullu ‘alal musamma” yang artinya nama menyiratkan, mengandung deskripsi terhadap apa yang dinamainya. Ia tidak setuju dengan pepatah “apalah arti sebuah nama”, pemahamannya menuntun untuk menempatkan nama sebagai do’a abadi kepada siapa ia disematkan. Dan pada akhirnya Marwah sering mengajak Islahuddin masuk ke kamarnya untuk bermain.

Marwah merawat Islahuddin bagai adik sendiri. Memandikan, mengeramasi, memotongi kuku, dan menyuapinya. Bahkan marwah kerap menjahitkan pakaian. Tak heran kalau teman-teman penghuni kos menggoda Marwah bahwa bocah itu anaknya.

Entah dimana anak itu tinggal, Marwah mendengar kabar bahwa anak itu lahir dari seorang wanita korban perkosaan. Karena setiap hari setelah Marwah urus dengan telaten, anak itu pergi begitu saja tanpa permisi.

Suatu waktu Marwah pernah menanyakan rumah Sang Anak kepada warga sekitar. “Itu di belakang Mbak, yang ibunya sinting, suka ketawa-ketawa sendiri,” kata salah seorang warga.

“Hah Ibunya Gila, Ya?”

“Kayaknya sih, soalnya suka cengengesan sendirian.”

Rasa Iba semakin membuncah dalam hatinya. Islahuddin memang kurang perhatian, maka wajar dia merawatnya sedemikian rupa. Hal itu berlangsung sekitar hampir setahun, saat anak itu berusia hampir dua tahun setengah. Hingga akhirnya perjalanan taqdir mengantarkan Marwah berpulang ke sisi Allah lewat sebuah kecelakaan di Sui Pinyuh. Dalam perjalanan menuju Pontianak sehabis liburan semester akhir.

Ternyata orang sebaik Marwah lebih diinginkan untuk segera menghadap Allah dengan keadaan yang sangat baik. Ketika meretas perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, sayap malaikat terbentang menaunginya sepanjang perjalanan, mengantarnya untuk menuju tempat terbaik.

Kontrak dengan rumah kos tidak diperpanjang. Pengelolaan rumah kos tersebut diserahkan ke pemilik bangunan. Saya nyaris kehilangan kontak dengan kos ini, setelah berkunjung ke rumah orangtua Marwah di Serimbu,  berziarah ke makam dan menangisi (dalam hati) pusara Marwah. Saya disibukkan dengan aktivitas kuliah.

Suatu ketika saya mendengar kisah Marwah dengan Islahuddin dari salah seorang mantan penghuni kos, maka saya menyempatkan diri untuk mencari anak tersebut ke Jalan Sepakat, menanyakan kepada penghuni kos & warga sekitar. Apakah anak kecil itu masih sering muncul.

“Islahuddin tidak pernah ke sini lagi, dulu setelah Marwah wafat, anak itu hampir tiap hari datang di jam-jam tertentu menunggui Marwah, tapi setelah menanti selama hampir 2 bulan, anak itu tidak pernah nampak lagi.”

Mendengar jawaban seorang warga di sekitar kos, dada saya sesak, pilu membayangkan sosok Marwah dan keteladanan yang diwariskannya. Sejak saat itu saya memutuskan untuk menggunakan nama Islahuddin sebagai nama laqab.*

Penulis adalah Rektor Balai Kopi