SHARE
Ketua dan para anggota DPR RI saat menghadiri Peringatan 60 Tahun Hubungan Persahabatan Indonesia-New Zealand di Kota Wellington ibu kota New Zealand, Selasa (7/11/2018). Foto: Dok. Dubes Indonesia untuk New Zealand
Di atas meja makan ini, di Restoran Istana Malaysia (sejujurnya kami ingin makan di Istana Indonesia namun tak ada) di kawasan Courtenay Place, pusat Kota Wellington ibu kota New Zealand kami mendendangkan lagu yang selalu indah, berkarakter, dan menggugah persaudaraan.  Edo Kondologit menyanyikan potongan lagu itu: “Hitam Kulit, Keriting Rambut, Aku Papua”. Tamu-tamu lain melirik kami. Tersenyum.

Saya hadir bersama Ketua DPR RI Bambang Soesatyo dan beberapa tokoh lainnya seperti Yorys Raweyai, Misbakhun, Mulfahri Harahap dan lainnya atas undangan pemerintah New Zealand dan Dubes Indonesia di New Zealand, Tantowi Yahya. Undangan ini dalam rangka 60 tahun hubungan persahabatan Indonesia-New Zealand.

Perayaan itu dimulai saat Presiden Jokowi datang ke sini Maret lalu dan akan ditutup oleh konser The Symphoni of Frienship pada 9 November 2018 di House of Opera Wellington yang langsung menghadirkan Erwin Gutawa dan puluhan pemusiknya termasuk Gita Gutawa.

Saya harus mengapresiasi strategi diplomatik dubes sahabat saya Tantowi Yahya ini yang memilih musik sebagai alat. Isu Papua dalam keluarga ras Milenesiasudah puluhan tahun mengganggu psikologis kita semua.

Beberapa negara bahkan menjadikan isu Papua sebagai jualan untuk menekan Indonesia. Tantowi melakukan terobosan sebab New Zealand berada dalam wilayah geografis bangsa-bangsa Melanesia meski pemerintahan New Zealand adalah pemerintahan orang kulit putih. Dan Edo Kondologit, musik Erwin Gutawa, serta konser dalam format orkestra adalah taktik jitu.

Sebab kita mencintai Indonesia. Sebab kita menyayangi saudara-saudara kita di Papua.