SHARE
Menyiasati Strategi Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19
Ilustrasi :https://lpmplampung.kemdikbud.go.id/

Oleh Siti Halijah, S.Pd.I

INDONESIA adalah negara kesatuan yang disebut juga sebagai negara maritim, negara agraris, dan negara konservatif yang saat ini terjerat krisis ekonomi, krisis kesehatan, dan krisis pembelajaran. Dengan luas wilayah yang besar dan tingkat persebaran penduduk tidak merata, disertai dengan berbagai macam masalah, secara abstrak sesungguhnya negara mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah, krisis gerakan perubahan di berbagai pihak, dan krisis pembangunan manusia dan infrastruktur. Sebelum selesai merenovasi kerusakan yang ada, muncul pandemi Corona Virus Desease 19 (Covid-19) terdata di 34 provinsi : 169.195 positif, 122.802 sembuh dan 7.261 meninggal dunia, dan Indonesia diharuskan segera menghentikan persebaran virus ini.

Fakta yang diakibatkan pandemi Covid-19 sangat merugikan, selain memperparah krisis yang telah ada, juga menukik ketimpangan sosial, memperburuk ekonomi rakyat, menajamkan politik identitas, mencuat banyak kasus hukum, menambah muram kondisi kesehatan, bahkan mengancam pendidikan satu generasi. Berbagai upaya pemulihan dikerahkan, mulai dari kebijakan pemerintah untuk memangkas jam layanan kerja, meliburkan sekolah, wajib penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, berdiam diri di rumah, dan kebijakan lainnya yang memperjelas bahwa Covid-19 seakan wabah kolonial baru yang mengancam kebebasan bergerak serta berdampak buruk dalam kurun waktu jangka pendek dan jangka panjang.

Ditengah kepanikan dunia, Indonesia dengan kemampuan dan keterbatasan di hari kemerdekaannya yang ke-75, bumi pertiwi masih menyisakan alam yang kaya, budaya yang unik, bahasa yang beragam, dan semangat milenial muda pemimpin masa depan.  Suply energy power yang dimiliki, menuntut Indonesia memantaskan diri sebagai penyeimbang antara alam, ilmu pengetahuan, dan perubahan zaman. Alam Indonesia telah mengajak manusia yang tinggal di dalamnya untuk bereksplorasi dalam bingkai keberagaman, secara otomatis alam telah membentuk karakter manusia menjadi warisan budaya, juga menawarkan potensi ekonomi untuk dikelola, dan memosisikan tempat belajar yang menyenangkan untuk anak-anak yang hidup di sekitar hutan, tengah pulau, tengah danau, dan di tengah kota. Tetapi energi positif yang telah alam berikan tidak terserap dengan cepat, karena pendidikan memerlukan proses yang tepat untuk menemukan formula khusus dalam mengidealkan kemampuan anak bangsa, membaca potensi mereka diberbagai bidang agar merdeka berfikir, ruang gerak yang luwes, kemudahan akses yang terjangkau, pada akhirnya akan menempatkan ahli pada posisinya.

Sekolah merupakan ujung tombak pendidikan. Oleh karena itu keberhasilan sebuah bangsa seyogyanya segaris lurus dengan seberapa seriusnya kepedulian negara dalam pemantapan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan seberapa gesit bergeraknya sistem perubahan yang berinovasi pada perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan untuk memanusiakan manusia.

Guru memiliki peran dan tanggung jawab luar biasa kepada bangsanya, namun itu tidak disadari oleh banyak guru di Indonesia, karena siap secara intelektual tidak menjamin perubahan yang besar tanpa kemantapan emosional yang mengikat muridnya untuk percaya diri menjadi pemimpin bangsa, dan matang secara spiritual dalam merangkul erat penancapan karakter yang fundamental, terimplementasi melalui proses continue memfilter pengaruh buruk zaman, menjadikan guru sebagai sebuah timbangan yang membentuk bobot nilai kualitas muridnya, emas atau perak.

Adapun masalah yang dihadapi dunia pendidikan pra pandemi di setiap tempat adalah jumlah guru tidak mencukupi kebutuhan sekolah di berbagai wilayah, minimnya kualitas guru dalam menganalisa potensi yang dimiliki setiap anak dan menurunnya semangat mendidik, kasus intoleransi, kekerasan seksual, bullying, leadership yang dimiliki kepala sekolah tidak mumpuni merangkul semangat guru-guru yang dipimpinnya, serta ketidaktegasan supervisor pendidikan dalam pengawasan untuk melakukan tindakan-tindakan berani mengintervensi pelanggaran guru dan kepala sekolah di lapangan. Sedangkan masalah saat pandemi, dampak psikologis pada murid terlihat dengan pembatasan sosial yang menyebabkan stres karena tidak berinteraksi dengan teman dan guru, waktu menuntut ilmu terbuang sia-sia karena ketagihan gadget untuk game dan menonton content tidak mendidik, ketertinggalan pembelajaran yang cukup banyak, mengurangi bahkan menghilangkan kedisiplinan, sedangkan orangtua didesak untuk bisa mengajar dengan kemampuan seadanya di tengah pandemi yang berdampak pada kehidupan sehari-hari rumah tangga.

Adapun solusi yang ditawarkan belajar dimasa pandemi adalah :

  • Menggunakan tools jarak jauh yang tepat dan sesuai medan belajar wilayah di Indonesia seperti jaringan internet (dengan quota) dan radio (non quota)
  • Mendata dan memfasilitasi internet dan radio di berbagai wilayah untuk mempercepat gerak dalam upaya menyesuaikan efektif kedaruratan mengejar ketertinggalan pembelajaran;
  • Mengharuskan guru belajar mengajar dan terbiasa menggunakan aplikasi pendukung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti zoom, meet, podcast, broadcast, feature dan cara lainnya tanpa mengurangi esensi belajar menyenangkan;
  • Mengusahakan tatap muka pada zona hijau atau zona kuning dalam satu minggu 1-2 kali pertemuan dengan standar protokol kesehatan;
  • Memberikan modul pembelajaran darurat dan membekali buku khusus dasar parenting kepada orang tua agar lebih mengutamakan waktu mendidik anak-anaknya di rumah/mengoptimalkan pendidikan informal.

Kondisi belajar saat ini sangat sulit, karena adaptasi yang begitu lama di rumah tanpa berinteraksi dengan sekolah. Sebelum rusak berat, di Kecamatan Bunut Hilir pernah memiliki radio komunitas Surasuta 107 FM yang setiap malam mengirim pesan melalui udara dalam frekuensi yang sama untuk semua orang di berbagai tempat yang terpisah hutan, sungai, dan danau. Pesannya bersifat hiburan, edukasi, dan pesan publik. Pemanfaatan radio di pelosok negeri seharusnya sangat efisien di masa pandemi ini karena terhubung dalam jarak jauh, murah tanpa quota dan aman.

Mewujudkan Indonesia bahagia pada dasarnya tergantung seberapa berhasil sistem pendidikan mampu mengubah mindset rakyatnya untuk merevitalisasi semangat merdeka belajar sejalan dengan semangat kemerdekaan yang selalu digaungkan setiap upacara bendera. Bahkan setiap detik tanah yang dipijak di bumi pertiwi adalah detak perjuangan untuk membayar hutang merdeka versi pasca reformasi kepada generasi masa depan, sekaligus adalah pembuktian sebagai penerus kepada pejuang yang telah gugur di medan gerilya.

Indonesia bahagia akan terwujud, jika :

  • putusnya rantai generasi korupsi demi menghidupkan dan mengembalikan kepercayaan publik kepada pengurus negara dengan menanamkan pendidikan anti korupsi sejak dini;
  • lahir dan diberdayakannya ahli-ahli di berbagai bidang untuk mempercepat proses Indonesia milenial 4.0;
  • lestarinya budaya melek ilmu pengetahuan dan teknologi yang berinovasi, serta penerapan esensi karakter budaya timur yang ramah, toleransi, dan terbuka;
  • menjadi referensi transformasi pendidikan Asia untuk menjawab ketimpangan pendidikan di dunia.

Keberanian Kemendikbud RI dalam situasi pandemi yang di luar kendali ini, dengan berbagai terobosan dan kebijakan, upaya dan control sistem yang sistematis untuk menyelamatkan generasi merupakan pertaruhan signifikan atas kemajuan atau kemunduran Indonesia untuk 5-10 tahun ke depan. Semoga harapan para pemikir, penggerak, pencetak, pemimpi serta pemimpin Indonesia segera dikabulkan, selurus niat dan ikhtiar yang tidak mengenal batas perjuangan untuk menjadikan Indonesia negara disegani dunia dengan visi perdamaian dan kemerdekaan, target utama adalah selamatkan generasi di tengah pandemi dan wujudkan satu persatu cita-cita kemerdekaan. Salam merdeka!

 

Penulis adalah seorang guru di SD Negeri 07 Kuala Buin, Desa Entibab, Kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu