SHARE
Kegemukan Problem Perjuangan

Oleh Bung Qodja

BUKAN kematian yang memutus riwayat seorang pejuang. Karena mati bukan konsekuensi perjuangan. Orang yang tak berjuang pun pasti akan mati.

Satu-satunya pemupus riwayat seorang pejuang bahkan penakluk sekalipun adalah masalah “kegemukan” atau perut buncit. Situasi di mana seorang pejuang sudah tidak gesit lagi gerakannya karena kelincahan tersandera oleh postur. Saat di mana tubuh menerima asupan melampaui batas hingga malas bergerak, makanan selalu menjadi tema utama yang berputar di kepala.

Umar bin Khattab tidak menyukai perut buncit karena baginya perut seperti itu terlalu “kenyang” dengan dunia.

Apakah dengan tulisan di atas kita lantas menyalahkan orang gemuk? Tidak, saya tidak sedang mengeneralisasi bahwa orang gemuk sudah pasti bukan pejuang.

Gemuk itu pilihan, bahkan bagi sebagian orang ada yang mengaku tidak punya pilihan untuk menjadi ramping, situasilah yang mengondisikannya untuk gemuk.

Tapi di sini saya mau mengajak kita untuk memahami kegemukan dalam relasinya dengan moral dan kekuatan seorang pejuang. Sepanjang sejarah kita memandang kekuatan dengan tidak konsisten.

Ada kalanya ketika beruang yang tambun jadi simbol kekuatan, lalu muncul simbol kekuatan baru dan dominan berupa singa yang ramping di pinggang serta perkasa di dada. Perlambangan kekuatan ini memengaruhi cara pandang kita tentang citra seorang pejuang.

Ada saat di mana kesatria itu tergambar sebagai sosok bertubuh gempal tapi padat energi meski lamban, kadang pula kesatria mewujud sosok kekar bertubuh ramping nan gesit.

Dalam tradisi wayang kulit misalnya, kita bisa melihat citra para kesatria, dengan Arjuna sebagai panutan, umumnya berpostur ramping, bahkan cungkring. Sosok yang gendut justru pihak jahat: para gergasi, buto, atau orang sabrangan.

Citra ini menyugesti cara pandang masyarakat Jawa dan nusantara dalam memandang postur bahwa kurus itu ideal yang tidak hanya sebatas bermakna estetis tapi juga memancarkan citra moral seseorang.

Gemuk menandai sifat tamak dan rakus. Di sini kita bisa mafhum mengapa Rasulullah berwasiat “Berhentilah makan sebelum kenyang”, sebab kemampuan mengendalikan nafsu makan sejalan dengan kemampuan kita menegakkan moral.

Maka kita tidak bisa mengendalikan persepsi orang karena tuntunan agama pun membuat kita senantiasa mencurigai orang gemuk sebagai sosok yang gemar akan rasa kenyang dibanding berlapar-lapar puasa. Fakta perjuangan selalu memberi konsekuensi bagi kita untuk tidak menikmati sajian dunia seluruhnya. Maka seorang pejuang mustahil untuk bertubuh gemuk, kecuali bagi mereka yang mengalami kegemukan karena sebab genetis.*

Penulis adalah anggota KAHMI Kota Pontianak