SHARE

Oleh Abroorza Ahmad Yusra

Saya, dengan segenap hati yang paling tulus, mewakili spesies homo sapiens yang sudah menjadi manusia dan yang belum, yang beradab dan yang biadab, mengucapkan rasa bersalah dan kesedihan sedalam-dalamnya atas kepergian Sudan. Badak Putih Afrika Utara itu adalah satu-satunya badak jantan yang seminggu lalu masih menjadi harapan keberlangsungan satwanya. Tetapi, berita tertanggal 20 Maret menyebutkan para pakar terpaksa harus mengakhiri hidupnya. Kompilasi yang diderita sudah parah, dan suntik mati dengan sangat terpaksa dilakukan.

Kita mau tidak mau harus berdoa, semoga Tuhan mengampuni kita. Semoga Tuhan mengizinkan keberhasilan cara bayi tabung untuk spesies itu sehingga harapan yang hanya sekian persen, tidak sekadar wacana.

Punahnya Badak Putih bisa jadi merupakan indikasi bahwa perlakuan manusia terhadap satwa, dan alam, sudah sedemikian kronis. 50 tahun terakhir, data survei dari instansi manapun, NGO manapun, akademisi manapun, menunjukkan hal yang sama: tingkat penurunan populasi satwa sangat cepat. Hal ini seiring dengan degradasi kuantitas dan kualitas habitat yang sebagian besar dipengaruhi oleh cara hidup dan pandang manusia.

Perluasan permukiman, pengalihan hutan menjadi perkebunan, semua mengatasnamakan ‘kebaikan’ manusia. Eksploitasi sumber daya alam yang berada di bawah tanah di atas tanah, di dalam laut di atas laut, semua demi ‘kebaikan’ manusia. Perburuan satwa, untuk dipelihara maupun diawetkan bagiannya, konon katanya demi kebaikan religi, budaya, kesehatan atau prestise manusia. Semua berujung pada manusia. Antroposentris.

Manusia, sadar atau tidak, masih selalu menganggap diri sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dengan segala kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem. Nilai tertinggi adalah kepentingan manusia, sehingga hanya manusia yang perlu mendapat perhatian.

Adapun alam semesta, hanya akan bernilai bila bermanfaat bagi manusia. Alam  lantas hanya dilihat sebagai objek, sesuatu yang terpisah, yang bisa diperlakukan sesuai dengan ada atau tidaknya manfaat bagi subjek utama, manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.  

Pandangan antroposentris ini bukan muncul kemarin sore, tetapi sudah mendarah daging dari zaman Yunani Kuno. Sesungguhnya, sudah ada pandangan perlawanan, biosentrisme, yang menawarkan bahwa “manusia dan makhluk lain sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang universal, saling menjadi tubuh dan jiwa”.

Tetapi, sofa antroposentris masih begitu nyaman bagi pantat manusia untuk ditinggalkan. Tampaknya manusia tidak cukup dengan hanya menjadi “bagian”. Melebur bersama alam hanya meninggalkan kesan bahwa eksistensi manusia tidak utuh dan abu-abu, padahal, eksistensi dibutuhkan untuk menjamin bahwa aku ‘ada’. Semua tetap diukur dari azas manfaat bagi manusia.

Bahkan sebuah yayasan lingkungan membuat kampanye perdagangan satwa dengan judul “Penghentian Perdagangan Satwa dan Manfaat bagi Manusia”. Saya berharap, judul seperti itu hanya disebabkan oleh masalah bahasa, bukan substansial. Sebab, jika itu menjadi substansi, artinya, kita memang masih begitu antroposentris. Segalanya harus dilihat dari kaca mata manusia, harus bermanfaat bagi manusia.

Bagaimana jika tidak bermanfaat? Bermanfaat bagi manusia yang mana? Bagi seorang pemburu, satwa bermanfaat secara ekonomis. Bagi seorang akademisi, satwa bermanfaat bagi penelitian. Pengertian ‘manfaat’ bisa berubah-ubah, sesuai konteks, lokasi, dan waktu.

Badak Putih di Afrika, apakah ada manfaat bagi manusia di Kalimantan? Bisa saja, berbagai alasan dengan menghubungkan titik yang satu dengan yang lain kita lakukan, bahwa Badak Putih merupakan satu di antara mata rantai mega eksosistem dunia dan kehilangannya akan menggoyahkan perputaran roda ekosistem. Tetapi, bagaimana ternyata tidak ada manfaatnya, atau belum ditemukan manfaatnya, apakah dengan itu kita perlu mengarang-ngarang? Atau justru memilih untuk mengabaikan Badak Putih dan mengatakan bahwa ada yang lebih bermanfaat, jadi tidak apa-apa dia punah?   

Kecenderungan antroposentris, tidak salah lagi, disebabkan oleh kecenderungan manusia ingin menegaskan eksistensinya. Sayangnya, penegasan eksistensi itu ditempung dengan cara yang mengarah destruktf.

Banyak teori yang mencoba mengurai jalan manusia memenuhi kebutuhan eksistensi, dan hampir semuanya mengarah pada dua cara: Pertama, sadistik. Kedua, masokistik.

Cara pertama, sadistik, adalah dengan berkuasa dari makhluk lain. Dorongan ini bisa ‘disalurkan’ dengan ekspansi wilayah, menjajah, membantai sebuah kaum, memerintah yang kalah. Cara kedua, melankolis, adalah dengan dikuasai oleh orang lain. Orang-orang seperti ini pasrah dengan hanya dengan menjadi suruhan. Justru mereka berbahagia bila bisa melayani, menghamba, memuja, atau mencium kaki orang lain.

Ada jalan tengah antara cara sadistic dan cara masokis, yang menjadikan seorang homo sapiens itu manusia, bukan sekadar spesies. Jalan tengah itu, tetap menjadikan manusia memiliki daya eksis dan dalam waktu bersamaan tidak mengabaikan eksistensi makhluk hidup dan benda lain.

Dalam istilah Erich Fromm, psikolog humaniora, jalan tengan itu diistilahkan dengan orientasi produktif. Keproduktifan, ditujukan pada pengoptimalan akal (pikiran produktif) dan intuisi (cinta). Orientasi produktif membuat manusia menggunakan potensinya, akal dan intuisi, sebagaimana seharusnya. Orientasi produktif membuat manusia berlaku produktif tanpa harus menghancurkan.

Itu mungkin terdengar teoritis, dan idealis, dan manusia yang mengaktifkan akal dan intuisinya secara benar hanya sekian persen dari total jumlah manusia. Faktanya, cara-cara sadistic dan melankolis yang lebih mendominasi. Orang bisa menjadi sadis dan masokis dalam waktu yang bersamaan. Para pemburu misalnya, tidak berdaya di hadapan cukong, namun juga menggila di hadapan satwa buruan. Kombinasi sadistic dan masokistik biasanya melahirkan kecenderungan destruktif, penghancuran.

Berakhirnya Perang Dunia II kedua memang menjadi titik balik sejarah peradaban manusia. Pertentangan sesama manusia semakin menguap. Sikap-sikap diskriminatif berkurang. Sikap-sikap merendahkan dikecam. Bunuh-membunuh berkurang. Hukum sesama manusia menjadi jauh lebih manusiawi.

Namun, kecenderungan destruktif selalu tertanam. Saat berkuasa terhadap manusia lain selalu terbentur tekanan hukum, etika, atau moral, spesies lain menjadi sasaran pelampiasan. Eksploitasi terhadap manusia beralih pada eksploitasi pada makhluk hidup lainnya. Berburu, yang merupakan tindakan ribuan lalu menjadi kembali marak, dan tentunya berburu zaman dulu dan berburu zaman sekarang berbeda motif. Dulu, perburuan dilandasi kebutuhan. Sekarang, dilandasi, apa namanya? Hobi? Prestise? Kasih sayang terhadap binatang? Budaya?.

Dalam waktu bersamaan, karena hubungan antara manusia semakin baik dan perperangan demi perperangan bisa dihindari, manusia bisa berkembang biak dengan luar biasa. Mereka membutuhkan tempat yang lebih luas, dan atas nama kebaikan peradaban manusia, spesies lain ya harus menyingkir.

Jadi, sesungguhnya kepunahan Badak Putih bukan hanya disebabkan perburuan yang gila, tetapi korban gila eksistensi homo sapiens. Saya berburu maka saya ada. Saya simpan cula badak maka saya ada. Saya pelihara orangutan maka saya ada. Saya punya kebun jutaan hektar maka saya ada. Saya manusia maka saya ada. Yang lain tidak ada.

Ah, eksistensi ternyata ditopang pilar destruktif. Kita masih homo sapiens. Bukan manusia.

Penulis adalah penggiat seni budaya dan lingkungan