SHARE
Candu Energi

Oleh Abroorza Ahmad Yusra

Bayangkan jika listrik tidak menyala selama satu jam? Oh, sudah biasa. Selama satu hari? Di desa-desa, ya begitu. Selama satu bulan? Lima bulan? Setahun? Orang desa sekalipun mungkin kesal bukan main. Apalagi masyarakat kota besar. Mungkin, 90 persen manusia di atas muka bumi ini telah menggantungkan hidupnya pada bahan bakar minyak, listrik, kuota internet, pulsa.

Bayangkan bila sumber daya alam berupa minyak itu habis –karena ia sumber daya tidak terbaharukan, kan?- dan kita belum menemukan sumber daya lain yang bisa menggantikannya. Bayangkan bila itu tidak terjadi di sebuah kota, tetapi satu negara, satu dunia.

Chaos. Itulah yang pertama kali terpikirkan. Mungkin Anda punya bayangan berbeda. Tetapi, kesemerawutan pasti tidak dapat terhindarkan. Segala aspek peradaban manusia tidak ada yang terlepas dari kebutuhan terhadap energi eksternal.

Listrik, internet, sinyal, transportasi, semuanya bergantung pada penggunaan bahan bakar minyak. Perputaran ekonomi dibangun dari penggunaan bahan bakar. Kegiatan budaya, pendidikan, agama, sebagian besar tidak lepas dari bahan bakar.

Energi, dalam abad modern, lambat laun beranjak dari “kebutuhan” menjadi “candu”. Pemanfaatan energi bukan lagi berdasarkan kebutuhan, namun keinginan. Gemerlap kota dibangun atas dasar prestise, fancy, kemewahan, glamor. Biaya untuk kemewahan itu memerlukan jutaan barel bahan bakar.

Penggunaan luar biasa bahan bakar itu menjadi faktor utama perubahan iklim. Tetapi, mari abaikan sejenak soal iklim, meskipun itu juga hal penting. Sebab, saya khawatir, jangan-jangan kita terlebih dahulu musnah sebelum perubahan iklim mencapai titik klimaksnya, ketika metana dan karbon melebihi kemampuan bumi menekan kapasitasnya. Sumber daya alam yang habis bisa membuat seluruh umat manusia saling bunuh layaknya para pencandu yang sakau.

Sikap ketergantungan dan kecanduan kita pada energi nampaknya tidak lepas dari kecenderungan kita memamerkan eksistensi kita.

Satu di antara kebutuhan eksistensi manusia adalah keberakaran (rootedness). Manusia membutuhkan keberakaran untuk merasakan sebuah ikatan atau rasa kepemilikan terhadap sesuatu di luar dirinya. Saat dilahirkan, manusia bisa dianggap terlepas dari ikatannya terhadap alam. Ia terisolasi dari dunia, kehilangan daya, dan terlepas dari akarnya semula. Situasi ini menimbulkan kesepian yang mengerikan, sehingga manusia memerlukan ikatan lain yang manusiawi.

Ibu menjadi bentuk rasa aman pertama dan utama bagi seorang manusia yang baru lahir. Selanjutnya, bayi akan menjadi seorang dewasa, dan akan terjadi masa ketika ia menyadari keberadaan dirinya. Perlahan-lahan, keterikatan pada ibunya, orang tuanya, mengendur. Namun bukan berarti si anak tidak membutuhkan ikatan. Agar eksistensi sang anak tetap berlangsung, ia mencari pengalihan (represi) rasa keberakaran dan ini mustahil untuk ditolak, secara sadar maupun tidak.

Pemenuhannya, dengan mengaitkan diri dengan alam sekitar. Sebab keterkaitan dengan alam sesungguhnya bersifat abadi –alam merupakan tempat berdiri manusia, dan manusia tetap mengidentifikasikan dirinya dengan alam, tumbuhan, maupun hewan.

Namun, bagaimana bila ternyata alam di sekitar kita adalah alam yang terbentuk dari semen, pabrik, asap knalpot, gemilau lampu-lampu, atau seliweran koneksi internet. Segala perkembangan teknologi, media, membuat kita memasuki zaman modern yang sepertinya tidak lagi mengandalkan alam. Orang bisa tidur di dalam ruangan ber-AC, makan di ruangan ber-AC, buang air di WC ber-AC, jogging di ruangan ber-AC, dan pulang pergi di mobil berfasilitas AC. Semua situasi itu menjadi cara manusia mengidentifikasi eksistensinya, keberadaannya.

Jadi, jelas bila terjadi sesuatu masalah pada energi yang menopang AC ada, listrik ada, sinyal ada, akan terjadi kekacauan pada rasa keberakaran manusia modern. Terjadi pergulatan dalam eksistensi manusia modern. Lantas, peradaban yang dibangun untuk menunjang eksistensi manusia sebagai spesies terbesar di muka bumi jelas terguncang dengan sendirinya.

Karena itu, kegiatan konservasi sesungguhnya tidak melulu bicara soal satwa, hutan dan laut, tetapi juga kota-kota. Gerakan yang cukup dikenal dan bersifat global adalah Gerakan Earth Hour. Bila sekadar memandangnya sebagai selebrasi, huh, lebih baik nonton konser musik.

Substansi Earth Hour bukanlah sekadar mematikan lampu dalam satu jam, yang kemudian dikatakan bisa menghemat sekian watt energi. Jika saya adalah seorang yang nyinyir, sinis, berpikiran sempit, jelas saya tidak melihat manfaat apapun pada Earth Hour.

Apa yang bisa didapat di dalam satu jam? Betulkah hemat energi? Jika dibandingkan dengan jumlah jam yang ada di dalam setahun, satu jam di Earth Hour tidak ada apa-apanya. Hanya menjadi butiran kacang hijau di dalam sekarung beras.

Substansi Earth Hour sesungguhnya terletak pada simbol “+”. Seperti yang diketahui, simbol Earth Hour adalah “60+”. “60” yang menandakan 60 menit, adalah waktu yang singkat. Sementara “+” yang menandakan “selanjutanya dan seterusnya”, adalah waktu yang panjang. Sepanjang kita bisa mengusahakannya.

60”, bagi saya, adalah semacam waktu untuk bertafakur, merenungi, menganalisis, dan meyakini. Semacam puasa, tetapi dalam hal kecanduan terhadap energi.

Layaknya puasa dalam agama, dalam “60” kita didorong untuk merenungkan, apakah sesungguhnya kita memang para pencandu energi? Apakah nafsu menjadi maju mencegah kita untuk menghemat energi? Bila tak ada energi, masihkah kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk eksis? Apakah Tuhan menciptakan energi sebagai candu?

Jujur, tafakur seperti itu lebih nyaman dilakukan di hutan atau laut, yang sama sekali tidak menyediakan listrik atau sinyal, dalam jangka waktu berhari-hari. Tetapi, berapa persen manusia modern yang bersedia meluangkan waktu untuk mendekatkan diri pada alam dan menjauhi diri dari kebergantungan energi?

Kebanyakan dari kita adalah manusia yang super sibuk, yang menghabiskan usia muda dan tua dalam semerawut kota. Earth Hour menjadi jalan tengah untuk merangkul manusia-manusia yang tidak sempat itu melakukan perenungan terhadap kecanduan terhadap energi. Tidak di hutan atau di laut. Tetapi di tengah kota.

Bila “60” adalah masa perenungan, “+” adalah masa bertindak. Perenungan dapat menghasilkan pandangan baru, keyakinan yang lebih baik, dan tentu, merenung saja tidak akan mengubah apa-apa. “Manusia dideskripsikan dari perbuatannya,” ujar Noam Chomsky dan para orang bijak lain.

Tindakan-tindakan yang selanjutnya menentukan arah. Bila masih menjadi pecandu energi, masih “addicted”, artinya kita pasrah untuk berakar pada energi. Saat energi berkurang atau langka atau menjadi mahal, habislah. Layaknya sebuah pohon yang dibabat akarnya. Tidak ada lagi kemungkinan hidup, apalagi berkembang. Bila pemenuhan keberakaran dialihkan pada sesuatu yang lebih hidup, dengan alam (nature) misalnya, bisa jadi eksistensi kita dapat lebih tahan banting. Jangankan satu jam atau satu minggu, mati lampu satu tahun pun kita masih mampu. Boleh dicoba. Mungkin yang lebih ekstrim, bukan lagi Earth Hour, tapi earth week, earth month, earth year. Tidak mustahil, kecuali kita memang sudah sakit parah menjadi pencandu energi.

*Penulis adalah penggiat sastra dan lingkungan