SHARE
Wali Kota Tegaskan Pemkot Pontianak Peduli Terhadap Masyarakat
Kondisi gubuk Lena. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono ikut angkat bicara menanggapi berita tentang sebuah keluarga yang merupakan penduduk Kota Pontianak yang tinggal di sebuah gubuk kecil di Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Ditemui saat menghadiri sebuah kegiatan di salah satu hotel di Kota Pontianak, Edi menampik anggapan yang menyebutkan bahwa Pemerintah Kota Pontianak tidak peduli terhadap masyarakat.

Dia menyertakan sejumlah fakta tentang bentuk kepedulian Pemkot terhadap warga di antaranya program bedah rumah, bedah WC, sambungan air PDAM gratis, pemberian bantuan Kartu Indonesia Sehat (KIS) gratis, bantuan non tunai dan sejumlah bantuan lainnya.

“Pemerintah Kota Pontianak tidak pernah tidak peduli dengan masyarakatnya. Kita dari tahun 2008 melakukan program bedah rumah. Sampai sekarang, sudah ada 13 ribu rumah yang sudah kita bedah. Tahun ini ada 3 ribu rumah tersebar di 6 kecamatan yang kita bedah. Masih ada 1.800-an yang belum karena tidak bisa sekaligus, bertahap. Cuma sekarang rumah yang sangat rusak berat boleh dikatakan tidak ada. Yang ada hanya rusak ringan. Ke depan kita akan anggarkan untuk bedah WC-nya,” kata Edi kepada wartawan, Senin (14/10/2019).

Mantan Kadis PUPR Kota Pontianak itu menjelaskan bahwa keluarga Lena masih berstatus sebagai penduduk Kota Pontianak. Sebelum pindah ke Kubu Raya, keluarga Lena dikatakannya kerap mendapat bantuan pemerintah seperti bedah rumah dan program keluarga harapan (PKH). Edi menyayangkan kepindahan keluarga Lena yang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu ke pihak RT, RW, kelurahan maupun kecamatan. Padahal, jika sebelum pindah Lena melapor terlebih dahulu kepada jajarannya, Edi memastikan Lena sekeluarga tidak akan mendiami gubuk kecil tersebut.

“Awalnya tinggal di Kota Pontianak. Memang penduduk Kota Pontianak. Dia dapat bantuan bedah rumah, dapat bantuan PKH dan dapat bantuan lain dari pemerintah. Masyarakat juga banyak yang bantu dia. Diajak suaminya pindah ke Kubu Raya lalu membuat gubuk yang tidak layak. Kalau misalnya mereka lapor, kita sudah ada rumah susun di Kota Baru. Kita siapkan,” tukasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Perbakin Kalbar ini mengaku tak mempermasalahkan adanya donatur yang menyalurkan bantuan kepada keluarga Lena setelah beritanya viral di media massa beberapa waktu lalu. Namun, Edi memberi penekanan bahwa bantuan yang diberikan tidak boleh dijadikan modus untuk suatu kepentingan tertentu.

“Tetap ada satu dua yang seperti kejadian kemarin. Itu di luar pantauan kita karena mereka tahu-tahu pindah. Setelah kita lihat, ada hal-hal yang janggal. Kita tidak mau ini dijadikan modus untuk kepentingan. Kalau mau bantu masyarakat, silakan bantu. Kita tidak masalah, tapi lebih bagus koordinasi dulu. Sikap gotong royongnya kita hargai, tapi jangan dijadikan modus untuk misalnya meningkatkan follower dan untuk kepentingan tertentu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Edi meminta jajarannya untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran. Agar hal serupa tidak terulang, dirinya pun menginstruksikan seluruh camat dan lurah untuk lebih proaktif memantau warganya.

“Kuncinya sebenarnya kepedulian masyarakat semua. Jangan misalnya ada yang sakit malah didiamkan. Silakan Pak RT, Pak RW lapor ke lurahnya. Makanya, saya minta camat dan lurah untuk memantau seluruh warganya,” pungkasnya. (NAJ)