SHARE
Tragedi Wahyu di Tengah Pusaran Kampanye Imunisasi MR
Rizki Wahyu Pramono ketika berada di Ruang ICCU RSUD Soedarso Pontianak. Foto: Dok. Purwanto.

PONTIANAK – Pemerintah berkomitmen kuat untuk mengendalikan penyakit rubella serta kecacatan bawaan akibat rubella atau Congenital Rubella Syndrome di Indonesia pada tahun 2020.

Untuk mewujudkan eliminasi dan pengendalian penyakit ini ditempuh strategi nasional pemberian imunisasi MR tambahan atau catch up campaign untuk anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Diikuti peralihan pemakaian vaksin campak menjadi vaksin Measles Rubella (MR) ke dalam program imunisasi.

Di tengah-tengah euphoria sosialisasi vaksin MR, berbagai kendala dirasakan pemerintah. Seperti masih banyak penolakan dari masyarakat untuk mengimunisasi anaknya. Bahkan salah satu keluarga di Jalan 28 Oktober, Gang Bima Sakti III, Pontianak Utara menduga putra sulung mereka yang bernama Rizki Wahyu Pramono mengembuskan nafas terakhir akibat diberi vaksin MR.

“Sebelum disuntik hanya pilek biasa. Setelah dari Puskesmas dicek, suhu badannya normal. Kalau normal kok bisa penyakit keluar semua,” ungkap Purwanto ayah kandung Wahyu ketika ditemui di kediamannya, Minggu (12/8/2018).

Ketika ditemui, Purwanto menceritakan kronologi singkat hingga merenggut nyawa putranya. Wahyu mendapatkan imunisasi vaksin MR di sekolahnya, SDN 17 Pontianak Utara, Sabtu (4/8/2018). Sore harinya ketika pulang sekolah Wahyu mengeluh sakit kepala.

“Akhirnya hari Senin saya larang sekolah, tapi dia masih mau pergi. Lalu akibat pusing itu dia tersandung dan jatuh,” tutur Purwanto.

Selanjutnya, pada Selasa (7/8/2018) malam Purwanto berinisiatif membawa Wahyu ke Dokter Praktik Umum. Karena putranya itu mengeluh sakit di bagian dada dan kepala yang terus pusing.

“Kamis malam demam dan muntah tapi masih di rumah. Jumat paginya baru dibawa pergi ke Puskemas Parit Pangeran ketemu sama Kepala Puskesmas. Dia bilang vaksin disuntikkan efeknya memang kepala pusing dan demam tinggi,” bebernya.

Kendati begitu, sebagai orang tua, Purwanto beserta kerabat tidak tinggal diam. Akhirnya di hari yang sama dirinya kembali membawa Wahyu ke Puskesmas Telaga Biru, Pontianak Utara. Sampai di sana langsung dirujuk ke Rumah Sakit Swasta Yarsi, Pontianak Timur. Sekitar pukul 14:00 WIB Wahyu kembali mendapat rujukan untuk dirawat di RSUD Soedarso Pontianak.

“Pas Maghrib masuk ICU di Sudarso jam 10 malam pindah ke ICCU. Jam 2.30 Minggu dini hari sudah tiada,” jelas pria berusia 39 tahun itu.

Dia mengatakan, diagnosa awal ketika masih di ruang IGD RSUD Soedarso terdeteksi asam garam dan gula darah 400. Begitu masuk ruang ICU diagnosa bertambah menjadi radang otak, leukosit, dan infeksi lambung, serta pembekakan otak. Kemudian Wahyu mengalami muntah darah hitam.

“Kata dokter kondisinya sudah buruk. Pas masuk ke ICCU dokter saraf bilang ada pembekakan otak karena sering pusing. Disuruh nunggu dokter anak hari Senin tapi sudah meninggal duluan,” ungkapnya.

Purwanto mengaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu beserta Kepala Puskesmas sempat bertandang ke RSUD Soedarso dan mengatakan kondisi yang dialami Wahyu tidak berhubungan dengan pemberian vaksin MR.

“Ada Kadinkes Kota dan Kepala Puskesmas datang ke Soedarso dia bilang tidak ada hubungannya dengan vaksin,” katanya.

Hingga saat ini pihak keluarga masih bingung. Kenapa beberapa penyakit itu bisa tiba-tiba menyerang tubuh putra mereka. Padahal, menurutnya Wahyu merupakan anak yang aktif berolahraga dan jarang jajan di luar.

Jika berdasarkan rentetan kejadian dirinya mengaku gejala-gejala penyakit itu timbul setelah Wahyu menerima suntikan vaksin MR Minggu lalu.

“Awalnya anak ini sehat saja tidak ada riwayat penyakit. Keluarga sudah ikhlas, kita ingin beri tahu ke masyarakat saja jangan ada korban lagi,” imbuh Purwanto.

Rizka Wahyu Pramono adalah putra sulung dari empat bersaudara. Saat ini sedang mengenyam pendidikan di bangku kelas 6 SD. Berdasarkan penuturan orangtua dan kerabat dekatnya, Wahyu dikenal sebagai anak yang aktif dan penurut. Takdir berkata lain, bocah berbadan bongsor itu kini telah mengembuskan nafas terakhirnya, Minggu (12/8/2018) dini hari.

Sementara itu, Anggota DPRD Dapil Pontianak Utara Mashudi menuturkan pengungkapan ini bertujuan agar masyarakat bisa mengetahui informasi mengenai vaksin MR ini. Dan jangan sampai ada korban yang lain.

“Pemerintah kota harus lebih teliti lagi. Untuk saat ini dinas kesehatan coba cek ke lapangan tidak hanya ini saja. Banyak anak yang demam akibat vaksin tersebut dan ini yang meninggal,” kata Mashudi.

Selanjutnya, Kata Mashudi, vaksin MR ini juga belum ada sertifikat halal yang resmi dari MUI. Sehingga memperkuat dugaan ada yang tidak beres dari vaksin tersebut.

“Tolonglah Pemkot Pontianak untuk sementara hentikan dulu pemberian vaksin ini. Selidiki dulu vaksin ini. Kalau ini memang membahayakan bagi masyarakat khususnya warga Kota Pontianak lebih baik dihentikan. Jangan sampai ada korban lagi,” pintanya.

Anggota Komisi C ini menegaskan akan menggelar rapat dengan Komisi D yang membidangi kesehatan dan meminta segera mengklarifikasi kejadian ini.

“Kami besok akan mengadakan rapat untuk komisi D karena ini masalah besar, bukan kecil. Setelah kami dapat hasil rekaman ini kami minta ke Komisi D untuk segera mengklarifikasi hal ini. Bagaimana kelanjutannya,” tukasnya.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Andy Jap mengatakan Tim Komda KIPI akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mendapatkan kesimpulan atas kejadian ini.

“Ya nanti Tim Komda KIPI akan investigasi secara menyeluruh, untuk buat kesimpulan,” ungkap Andy Jap ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Komisariat Daerah (Komda) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) merupakan tim yang dibentuk dari beberapa unsur lain yang bertugas memantau agar program imunisasi berhasil dengan baik. Dalam hal ini, pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak dari dampak kekurangan imunisasi.

Komda KIPI bergerak secara terpadu untuk bisa menyosialisasikan, memberikan penjelasan dan bimbingan kepada masyarakat. Sehingga mereka bisa memahaminya dengan baik.

Selanjutnya Andy menegaskan efek pusing dan demam tinggi tidak pasti dialami oleh semua anak yang telah divaksinasi.

“Maka perlu dilakukan investigasi terlebih dahulu. Saat ini masyarakat di Kalbar yang sudah disuntik vaksin MR mencapai 20 persen,” pungkas Andy. (NAN)