SHARE
Rokok Elektrik Diharapkan Tidak Dilarang
Caption: Seseorang tampak tengah mengisap rokok elektrik. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK – Wacana Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melarang penggunaan rokok elektrik mendapat penolakan dari sejumlah perokok elektrik di Kota Pontianak. Muhajir (24), salah seorang perokok elektrik mengaku keberatan dengan wacana tersebut karena menurutnya rokok elektrik sejauh ini efektif membantunya menghentikan kebiasaan merokok secara konvensional.

“Keberatanlah, ya karena rokok elektrik ini cukup membantu saya berhenti merokok. Pengakuan dari kawan-kawan sesama perokok elektrik juga demikian,” katanya saat disambangi di Jalan Dr. H. Setia Budi Pontianak, Jumat (22/11/2019).

Muhajir mengaku sudah menggunakan rokok elektrik selama bertahun-tahun. Selama masa itu, Ia tak pernah mengeluhkan sakit karena kebiasaannya merokok elektrik tersebut. Di samping alasan efektivitas dalam membantu upaya berhenti mengisap rokok konvensional, Muhajir juga mengakui kalau rokok elektrik membuat pengeluarannya jauh lebih hemat ketimbang pada saat mengisap rokok konvensional.

Tak cuma ditolak perokok elektrik, wacana pelarangan ini juga turut ditolak oleh penjual rokok elektrik. Salah satunya ialah Dexi, pemilik toko Enjoy Vapor Store. Dexi menegaskan penolakannya atas wacana pelarangan rokok elektrik. Pasalnya, di samping merugikan usahanya, bahaya rokok elektrik yang selalu dijadikan BPOM sebagai alasan pelarangan juga dianggapnya terlalu dibesar-besarkan.

“Kalau dilihat dari banyak berita yang akhir-akhir ini beredar tentang kematian seseorang disebabkan oleh vape, itu dikarenakan kandungan THC (Tetrahydrocannabinol) yang ada di dalam liquid. Dan, kejadian itu semuanya terjadi di Amerika Serikat. Nah, kalau liquid yang dijual di Indonesia tidak ada THC. Setiap liquid vape yang beredar di Indonesia juga telah memiliki pita cukai. Cukai ini menandakan kalau vape menjadi legal,” imbuhnya.

Pria dengan nama lengkap Alqa Aprilino Ramsdexi Mangerongkonda itu bahkan menuding kalau wacana pelarangan rokok elektrik bukan semata-mata karena alasan kesehatan. Lebih dari itu, Ia mencium ada motif persaingan bisnis di balik pelarangan rokok elektrik ini. Betapa tidak, wacana pelarangan ini baru muncul ketika pemerintah resmi menaikkan cukai rokok konvensional mulai 1 Januari 2020 mendatang.

“Ini semua terjadi karna persaingan bisnis yang kuat antara pengusaha rokok tembakau dan vapers. Awal dari semua ini terjadi karena ada isu jika cukai rokok tahun depan akan ditinggikan. Nah, jika benar di tahun depan cukai rokok konvensional dinaikkan, maka otomatis mereka akan beralih ke vape atau rokok elektrik karena harganya yang lebih terjangkau. Jadi, ada semacam indikasi kalau isu ini sengaja digulirkan supaya tak banyak perokok konvensional yang beralih ke rokok elektrik,” jelasnya.

Lebih jauh Dexi pun berharap supaya pemerintah mengkaji ulang wacana pelarangan ini. Jika benar-benar terpaksa diberlakukan, Ia mendesak pemerintah supaya ikut melarang peredaran rokok konvensional.

“Diharapkan pemerintah mengkaji ulang tentang usulan pelarangan vape di Indonesia. Kalau memang mendesak dilarang, mestinya rokok konvensional harus dilarang juga,” tutupnya. (NAJ)