SHARE
Pulau Kalimantan Bakal Miliki Pipa Gas Bumi
Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa didampingi Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko dan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji memberikan keterangan pers kepada awak media. Foto: BPH Migas

PONTIANAK – Pulau Kalimantan bakal segera teraliri pipa gas bumi. Pasalnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) telah berencana membangun jalur pipa gas bumi Trans Kalimantan sepanjang 2.219 kilometer yang membentang dari Bontang, Banjarmasin, Palangkaraya hingga Pontianak.

Pipa itu akan menjadi jalur distrubusi gas bumi dari Bontang, Kalimantan Timur untuk memenuhi kebutuhan energi gas alam bagi seluruh masyarakat di Pulau Kalimantan.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) pun terus mendorong upaya pembangunan pipa gas ini. Salah satu dorongan yang dilakukan ialah rutin melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan menghimpun semua pihak terkait agar pembangunan pipa gas ini dapat benar-benar didukung oleh semua kalangan.

Dimulai sejak 2018 lalu, FGD yang diselenggarakan BPH Migas menyasar semua provinsi yang rencananya bakal dilalui pipa gas. Diawali di Kalimantan Selatan pada September 2018, Kalimantan Timur pada Desember 2018, Kalimantan Tengah pada Juli 2019 dan Kalimantan Barat pada hari Selasa, 3 November 2019.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa menjelaskan, pembangunan pipa gas ini begitu penting karena manfaatnya lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan energi gas alam bagi masyarakat di Pulau Kalimantan. Lebih dari itu, pembangunan pipa gas tersebut dilakukan dalam rangka menunjang infrastruktur wilayah ibu kota baru.

“Untuk itu isu pemindahan ibu kota jadi pembangunan pipa gas, oleh karena itu BPH Migas perlu mengatur dan fokus menciptakan demand. Sedangkan untuk pasokan gas untuk Pipa Gas Bumi Trans Kalimantan, tidak ada masalah,” jelas Fanshurullah.

Menurut Fanshurullah, pembangunan pipa gas juga dinilai efektif dalam meningkatkan penyerapan gas bumi di Pulau Kalimantan. Adanya rencana pemindahan ibukota, rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri di beberapa wilayah di Pulau Kalimantan disebutnya sebagai alasan bakal meningkatnya penyerapan gas bumi.

“Berdasarkan data Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), ada lima KI dan KEK yang akan dibangun, yakni KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kalimantan Timur, KI Batulicin dan KI Jorong di Kalimantan Selatan, KI Landak dan KI Ketapang di Kalimantan Barat serta KI Tanah Kuning yang berada di Kalimantan Utara,” tukasnya.

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldok yang turut hadir pada kesempatan itu memperkirakan nilai investasi pembangunan pipa gas bisa mencapai angka Rp35 triliun. Dirinya juga optimistis pembangunan pipa gas akan menghidupkan sektor industri di sepanjang kawasan yang dialiri pipa.

“Kita sudah diskusi dengan Kementerian ESDM, dengan PLN membuat projection untuk kebutuhan ibu kota ke depan, di Kalimantan Timur. Sudah ada hitung-hitungannya secara bertahap sudah ketahuan berapa kebutuhannya, berikutnya dari mana itu didapatkan. Bisa kehadiran gas ini nantinya bisa jadi alternatif untuk pembangkit listrik untuk di Penajam Paser Utara (ibukota baru) nanti,” terangnya.

“Kalau trans dihitung-hitung sekitar 30-35 T untuk kebutuhan pipanya. Sudah diilustrikan oleh BPH Migas beberapa kebutuhan pembangkit listrik yang perlu diganti dari diesel ke gas. Berikutnya kebutuhan untuk pelabuhan baru, penggantian import dari Malaysia. Pastinya kalau ada pipa gas yang terbangun, industri pasti datang. Pasti hidup industrinya dan perkembangannya pasti akan pesat,” tutupnya. (NAJ)