SHARE
Pengamat Puji Peningkatan Daya Saing Kalimantan Barat
Pengamat ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak Prof. Dr. Eddy Suratman. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK – Lee Kuan Yew School of Public Policy Asia Competitiveness Institute memublikasikan temuan penelitiannya tentang daya saing keseluruhan provinsi-provinsi di Indonesia baru-baru ini. Salah satu hasilnya menunjukkan bahwa daya saing Provinsi Kalimantan Barat mengalami peningkatan dari sebelumnya di peringkat 28 pada 2018 menjadi peringkat 23 di 2019 ini. 

Berdasarkan hasil penelitian yang melingkupi 4 aspek, yaitu stabilitas ekonomi makro; pemerintahan dan institusi publik; kondisi finansial, bisnis dan tenaga kerja serta kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur tersebut, Kalimantan Barat memperoleh skor -0.423. Meskipun mengalami peningkatan cukup signifikan, Kalbar tetap menjadi provinsi dengan daya saing terendah di antara provinsi-provinsi lain yang berada di Pulau Kalimantan. 

Dari keempat aspek yang dinilai, hanya lingkup pemerintahan dan institusi publik yang mengalami penurunan. Dari yang sebelumnya berada pada peringkat 16 turun ke peringkat 17. Sementara aspek lainnya, seperti stabilitas ekonomi makro meningkat dari peringkat 26 ke peringkat 18, lingkup kondisi finansial, bisnis dan tenaga kerja turut mengalami peningkatan dari peringkat 19 menuju angka 15. Adapun lingkup kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur juga ikut mengalami peningkatan, dari peringkat 33 ke peringkat 31. 

Meningkatnya daya saing Kalimantan Barat ini turut diapresiasi oleh pengamat ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak Prof. Dr. Eddy Suratman. Dirinya menyebut bahwa terpilihnya Sutarmidji sebagai Gubernur Kalimantan Barat berpengaruh besar terhadap peningkatan daya saing ini. 

“Kalau saya perhatikan dari empat lingkup itu hampir semua mengalami peningkatan peringkat. Itu kan artinya ada perbaikan dari empat variabel pembentuknya itu. Yang paling lambat peningkatannya itu infrastruktur. Dia hanya meningkat dari 33 menjadi 31,” ujarnya saat diwawancarai di Universitas Tanjungpura Pontianak, Sabtu (10/8/2019).

Dari hasil penelitian tersebut, guru besar di bidang ekonomi ini menganilisis 3 kekuatan yang dimiliki Provinsi Kalimantan Barat. Ketiga kekuatan itu antara lain tingginya tingkat efisiensi pemerintah daerah, kualitas pendidikan yang semakin baik serta adanya ekspektasi dan perkembangan pemerintah daerah. 

Di samping kekuatan yang dimiliki, Kalimantan Barat dikatakan Eddy juga memiliki kelemahan-kelemahan yang mesti diperbaiki. Beberapa sektor yang masih menjadi titik lemah Kalimantan Barat, yakni produktivitas secara keseluruhan, keterbukaan dalam perdagangan dan keamanan. 

“Yang menarik adalah kekuatan kita itu ternyata tingkat efisiensi pemerintah daerah. Itu nomor satu 1,5 poin. Kedua kualitas pendidikan kita menjadi semakin baik. Ketiga ekspektasi dan perkembangan pemda. Artinya, kemungkinan perubahan pemimpin Kalbar Pak Sutarmidji memberikan ekspektasi, memberikan harapan,” tuturnya. 

“Tapi hati-hati juga karena kita ada kelemahan yang mesti diperbaiki. Itu misalnya produktivitas itu kita lemah. Kemudian keterbukaan dalam perdagangan. Keamanan kita juga masih dianggap lemah di situ,” timpalnya. 

Dengan peningkatan yang ada sekarang, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura itu berharap duet kepemimpinan Midji-Norsan dapat semakin meningkatkan daya saing Kalimantan Barat. Terlebih khusus, dapat meningkatkan aspek kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur, sebagaimana penekanan visi dan misi yang diusung oleh keduanya pada saat kampanye Pilkada Kalbar 2018 silam. 

“Jadi saya kira ini kabar baik lah, karena naik kan peringkatnya. Harapan saya dengan visi misi gubernur yang baru, yaitu mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kalbar dengan dua penekanan antara lain percepatan pembangunan infrastruktur dan perbaikan tata kelola pemerintahan, karena isu utamanya percepatan pembangunan infrastruktur, saya berharap tahun depan infrastrukturnya tidak lagi di peringkat ke-31. Tetapi, melonjak ke angka 25 atau 26 sehingga secara keseluruhan daya saing kita bisa lebih tinggi,” harapnya. (NAJ)