SHARE
Pelaku Peminjaman Dana Online Diancam 12 Tahun Penjara dan Denda Rp12 Milyar
Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono didampingi Kepala OJK Kalbar Mochammad Riezky F. Purnomo memimpin rilis pers pengungkapan tindak pidana ITE di Mapolda Kalbar. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK-Kepolisian Daerah Kalimantan Barat berhasil meringkus satu orang pelaku tindak pidana informasi dan transaksi elektronik (ITE). Pelaku berinisial RH (36) ini ditangkap karena menggunakan identitas orang lain saat melakukan peminjaman dana online melalui aplikasi Traveloka. 

Menurut keterangan pihak kepolisian, perbuatan kejahatan yang dilakukan RH ini sudah berlangsung sejak bulan Maret 2019 silam. Ia yang mengetahui cara melakukan pinjaman online melalui aplikasi Traveloka hanya dengan bermodalkan KTP, lantas mengumpulkan KTP dan memotret wajah pemilik KTP untuk dijadikan syarat peminjaman.

Selama kurun waktu 3 bulan, terhitung sejak Maret hingga Mei 2019, RH berhasil mengumpulkan sedikitnya 80 KTP untuk kemudian diajukan sebagai syarat peminjaman dana ke Traveloka. Kepada warga yang menyerahkan KTP, pelaku memberinya uang tunai senilai Rp100 ribu. Dari 80 pemilik KTP tersebut, tercatat 70 orang berhasil diajukan sebagai syarat peminjaman. 

Tiap-tiap pemilik KTP yang berhasil didaftarkan RH di basis data Traveloka memperoleh limit pinjaman sebanyak Rp1 juta hingga Rp8 juta dalam bentuk poin. Setelah terkumpul poin yang cukup banyak, pelaku kemudian menukarkan poin tersebut dengan memesan kamar hotel dan tiket pesawat untuk kemudian dijual lagi dengan harga yang jauh lebih rendah dari pasaran. 

Selama berbulan-bulan melakukan perbuatan tersebut, RH diduga telah meraup untung sebanyak Rp350 juta. Dari tangan pelaku, polisi berhasil mengumpulkan barang bukti antara lain 11 lembar fotokopi KTP korban, uang tunai Rp1.250.000, dua unit telepon genggam dan satu unit kartu ATM. 

Atas kasus ini, Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono pun mengimbau masyarakat yang merasa pernah dimintai KTP oleh pelaku untuk segera melaporkannya ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Didi juga berujar pelaku kejahatan ini akan diancam dengan kurungan penjara 12 tahun serta denda senilai Rp12 milyar. 

“Kasus ITE ini ancamannya 12 tahun penjara dan Rp12 milyar. Kalau ada yang juga mengalami seperti korban-korban ini, silakan lapor ke OJK. Jangan juga mudah percaya dengan yang muluk. Kalau selisih harganya terlalu siginifikan, terlalu jauh dengan harga asli bahkan cenderung tidak masuk akal, itu pasti ada apa-apanya. Jangan mudah percaya,” tandasnya. (NAJ)