SHARE
Source: Retorika.id

JAKARTA – Satu lagi partai politik baru hadir di Indonesia. Namanya Partai Hijau Indonesia (PHI). Partai ini sedang menggelar kongres perdananya pada 27-28 Februari 2021 di Pondok Walhi, Caringin, Bogor, Jawa Barat. PHI hadir untuk menorehkan warna baru dalam Pemilu 2024.

Selain menetapkan AD/ART, para pendiri juga menentukan kepengurusan, menyiapkan strategi menghadapi Pilkada dan Pemilu untuk memenangkan “Politik Hijau” atau politik lingkungan hidup.

Sekretaris Jenderal (Konvenor Nasional) PHI John Muhammad meyakini Indonesia tengah menderita krisis lingkungan hidup dan krisis demokrasi. “Pelemahan KPK, pemaksaan omnibus law yang akan memuluskan investasi energi kotor, akan semakin memperparah kerusakan lingkungan hidup kita,” katanya dalam siaran pers, Senin (1/3/2021).

Di sisi lain, kata John Muhammad, ketiadaan oposisi yang otentik atau yang benar-benar setia membela masa depan Indonesia yang bersih, adil dan lestari, bakal membuat oligarki semakin merajalela dan mengekang negara dalam waktu tak terhingga. Maka sebesar apa pun mereka, kita tidak bisa diam saja.

Mempertegas kondisi itu, sebelumnya, dalam Diskusi Daring Pra-Kongres PHI pada 24-26 Februari 2021, Direktur Eksekutif Nasional Walhi Nur Hidayati mengatakan bahwa politik ekologis adalah politiknya rakyat kebanyakan yang wajib dibela.

“Jadi politik hijau itu bukan politiknya elit politik yang korup, melainkan politik rakyat kebanyakan yang berhak atas kualitas lingkungan hidup yang lebih baik,” kata perempuan yang akrab disapa Yaya ini.

Senada dengan Yaya, Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid menilai politik hijau sangat potensial menantang oligarki. “Secara konseptual, jelas politik hijau adalah jawaban dari kedua krisis ini karena isunya mewakili warga kebanyakan,” katanya.

Usman Hamid mencontohkan DKI Jakarta, di mana indeks demokrasinya bagus tapi indeks lingkungan hidupnya buruk atau sebaliknya. Jadi kalau kita mau kedua indeks tersebut naik maka tidak ada jalan lain harus melalui politik hijau.

Terkait tantangan sistem politik yang kurang demokratis dan semakin tidak memberikan ruang pada politik alternatif, Direktur Perludem Khoirunnisa Nur Agustyati (Ninis) dan Ketua Kode Inisiatif Veri Junaidi sepakat bahwa publik harus mendorong perubahan sistem politik yang lebih adil dan PHI harus cerdas memanfaatkan peluang politik yang tersedia.

“Tren sistem politik saat ini adalah parpol-parpol besar menginginkan persyaratan administratif yang lebih sulit, supaya parpol-parpol alternatif tidak dapat terlibat. Masalahnya, sistem politik ini hanya bisa berubah oleh parpol. Jadi kebutuhan parpol alternatif yang dapat memperbaiki sistem politik yang adil memang mendesak” ujar Ninis.

Ketua Kode Inisiatif Veri Junaidi menambahkan, PHI harus cerdas dan kreatif menggunakan sumber dayanya. Ruang kontestasi elektoral seperti Dewan Perwakilan Daerah, Pilwalkot, Pilbup, Pilgub bahkan Pilpres sebenarnya terbuka untuk dimenangkan melalui jalur independen,” ucapnya.

Meski begitu, anggota muda PHI seperti Defrio Nandi (DKI Jakarta), Abdul Ghofar (Jateng) dan Kristina Viri (DIY) tetap optimis memandang peluang PHI. “PHI satu-satunya parpol yang saya lihat benar-benar melawan politik mainstream dan terdepan membela minoritas,” kata Kristina Viri.

Senada dengan Viri, Ghofar mengatakan bahwa dirinya berasal dari kampung dan melihat sendiri kalau politisi muda saat ini didominasi oleh praktik nepotisme. “Anak muda harus masuk untuk mengubah situasi ini,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Nandi. “Gue yakin ada banyak anak muda yang masih idealis dan mau menjadi kader parpol yang mengedepankan nilai-nilai yang membela krisis iklim seperti PHI,” ucapnya.

Sedangkan Dimitri Dwi Putra, salah satu Delegasi PHI DKI Jakarta dan peserta Kongres menyimpulkan bahwa krisis iklim saat ini terlalu serius untuk dibiarkan dan politik hijau harus menang.

“Ketika kiamat ekologi terjadi, oligarki dan elit politik korup di Indonesia dapat dengan mudah menyelamatkan diri. Sementara saya dan anak saya harus menjadi korban bencana. Inilah urgensi PHI dalam hidup saya,” kata Dimitri. (*R-1)