SHARE
Pacu Pertumbuhan Ekonomi Kalbar Lewat Pipa Gas
Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji didampingi Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko dan Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa memberikan keterangan pers kepada awak media. Foto: BPH Migas

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji mendukung penuh rencana pembangunan pipa gas bumi Trans Kalimantan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Ia bahkan meminta agar pembangunan pipa gas yang akan membentang di hampir semua provinsi di Pulau Kalimantan itu dipercepat.

Sutarmidji menuturkan, pembangunan pipa gas ini bakal sangat membantu Provinsi Kalbar dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonominya. Dengan adanya pipa gas ini, Ia optimis pertumbuhan ekonomi Kalbar yang saat ini berada di urutan kedua di Pulau Kalimantan bisa menjadi urutan pertama dalam beberapa tahun ke depan.

“Kalau pipa gas ini untuk menunjang energi dalam hal investasi itu maka Kalbar itu akan menjadi daerah yang pertumbuhan ekonominya paling tinggi di Kalimantan. Dulu kita selalu di urutan terakhir, sekarang sudah urutan kedua. Saya sih kalau mau lebih cepat. Tahun depan mulai harusnya lebih baik,” ujarnya kepada awak media usai menghadiri FGD yang digelar BPH Migas di Hotel Mahkota Pontianak, Selasa (3/12/2019).

Mantan Wali Kota Pontianak ini lantas mengurai sejumlah permasalahan yang menghambat pertumbuhan ekonomi di Kalbar. Kebutuhan energi yang belum memadai disebutnya sebagai salah satu penyumbang terbesar lambatnya pertumbuhan ekonomi. Ia juga mengatakan kalau kondisi tersebut jelas merugikan Kalbar sebagai daerah penghasil sumber daya alam.

“Kenapa, selama ini pelabuhan tidak bisa beroperasi dengan baik karena listriknya tidak ada. Kemudian smelter tidak dibangun cepat karena energi listriknya tidak ada sehingga ekspor mentah. Kalbar itu penghasil CPO terbesar kedua, tapi tidak diekspor di Kalbar karena tidak ada pelabuhan ekspor. Sekarang sudah ada. Begitu itu nanti keluarnya dari Kalbar, Kalbar itu akan kelihatan bagaimana kontribusinya terhadap ekonomi nasional. Sekarang ini listrik kita masih beli dari Malaysia. Kemudian, industri membeli dari PLN mahal, tidak kompetitif,” jelasnya.

Dengan adanya pipa gas, kata Sutarmidji, Kalbar diyakininya tidak lagi menjadi daerah pengekspor barang mentah. Sebab, tidak memadainya energi yang menjadi salah satu sebab utama tidak diolahnya barang-barang mentah itu sudah bisa diatasi dengan adanya pipa gas Trans Kalimantan.

Dengan begitu, lanjut Midji, barang-barang mentah itu sudah bisa diolah menjadi barang setengah jadi atau bahkan barang jadi. Sehingga, secara otomatis nilai suatu produk menjadi bertambah dan masyarakat Kalbar pun akan memperoleh pendapatan yang jauh lebih tinggi.

“Saya berharap itu sehingga kita mendapatkan listriknya murah, SDA kita bisa diolah jadi bahan setengah jadi atau bahan jadi kalau perlu. Itu akan meningkatkan daya tambah, mengungkit lapangan kerja dan pendapatan masyarakat pasti lebih tinggi. Kita pun mendapatkan bagi hasil pajak lebih besar untuk membangun daerah ini,” tukasnya.

Saat ditanya mengenai bentuk dukungan nyata yang bakal dilakukan, Sutarmidji mengatakan bahwa setelah pertemuan ini, dirinya akan mengumpulkan semua bupati dan wali kota se-Kalbar dan meminta mereka untuk mendukung percepatan pembangunan pipa gas. Ia berujar, pipa gas ini perlu dipercepat pembangunannya agar daya saing Kalbar yang saat ini berada di urutan ke-23 bisa masuk ke sepuluh besar nasional.

“Setelah ini konkretnya saya akan bertemu dengan bupati/wali kota. Kita buat kesepakatan mendukung semaksimal mungkin percepatan dalam pipa gas trans Kalimantan ini,” pungkasnya. (NAJ)