SHARE
Mengulik Cerita Pengrajin Rajutan Khusus Bayi
Berbagai produk rajutan yang dibikin Yommi Hamada. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK– Kecintaannya akan dunia usaha menggiringnya untuk menekuni usaha yang tak banyak digemari orang lain. Jika kebanyakan orang memilih untuk menggeluti usaha kuliner, sebagaimana yang sedang tren di masyarakat saat ini, Ia malah menggeluti usaha kerajinan tangan berupa rajutan khusus bayi. 

Semuanya berawal pada pertengahan 2017 silam. Kala itu, perempuan bernama lengkap Yommi Hamada ini mesti mengalami kenyataan pahit lantaran usaha di bidang teknologi pertaniannya gulung tikar. Kondisi pasar yang belum terlalu menjanjikan ditengarai menjadi penyebab kebangkrutan usahanya.

Menjalani masa-masa sulit, Yommi memutar otak agar bisa kembali membangun usaha. Di masa itu, dirinya pun terpaksa bekerja di kafe guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hingga pada suatu ketika, Ia dipertemukan dengan teman lamanya yang kebetulan sedang menggeluti usaha kerajinan rajut.

Yommi menceritakan bahwa teman sekaligus mentornya itulah yang mengenalkannya dengan kerajinan rajutan. Awalnya, Ia hanya diminta untuk memasarkan produk buatan temannya, namun karena pesanan yang semakin hari semakin banyak, Yommi pun ikut tergerak untuk ikut membikin kerajinan yang terbuat dari berbagai jenis benang katun tersebut.

“Dulu sempat usaha bonsai, lalu kemudian bangkrut. Pontianak ini rupanya belum terlalu kenal dengan bonsai makanya gagal. Karena memang suka usaha sejak kecil, jadinya coba-cobalah bikin kerajinan sepatu rajut ini. Awalnya sih diajari teman. Dia minta saya untuk memasarkan. Eh, karena pada saat itu orderannya banyak, ya saya ikut bantu lah,” kata Yommi di kediamannya di Gang Eka Jaya Nomor 7, Jalan Putri Candramidi, Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Minggu (14/7/2019). 

Beberapa tahun menekuni usaha ini, Yommi mengaku keterampilannya merajut tak diperoleh dengan gampang. Butuh waktu setahun lamanya guna membikin suatu produk rajutan menjadi benar-benar pas.

Sembari mempraktikkan cara merajut sepatu, Yommi kembali berkisah bahwa pada awalnya Ia hanya fokus membikin sepatu rajut untuk bayi. Namun seiring bergulirnya waktu, Ia memberanikan diri mencoba membikin produk jenis lain seperti bando, sandal, topi bahkan bikini bayi. 

Yommi mengungkapkan bahwa dalam sehari dirinya mampu memproduksi 1-2 buah sepatu rajut. Untuk produk lainnya semisal bando dan sandal, Ia sanggup memproduksi sebanyak 4-5 buah. Selama hampir dua tahun menggeluti usaha tersebut, Yommi mengaku sudah menghasilkan ratusan produk rajutan.

“Sepatu bayi bisa 1-2 buah dalam sehari. Kalau topi, bando, sendal satu hari bisa lebih dari satu. Pernah ada yang pesan heels buat bayi dan sekarang lagi nyoba buat bikini bayi pesanan orang,” imbuhnya. 

Yommi menuturkan bahwa produk buatannya paling banyak dipesan saat menjelang lebaran. Jika di hari-hari biasa produknya hanya terjual berkisar 15-20 buah per bulan, menjelang lebaran pesanannya meningkat berkali-kali lipat hingga pernah mencapai 40 buah per bulan.

Produk yang dijajakan Yommi ini terbilang terjangkau, mulai dari Rp75 ribu hingga Rp125 ribu. Produk-produk buatannya ini diakuinya sudah pernah dibeli oleh berbagai pelanggan dari berbagai kabupaten/kota di Kalbar. Bahkan kata dia, pernah pula dipesan oleh pembeli dari luar Kalbar seperti Semarang, Medan, Makassar, Jakarta dan kota-kota lainnya. 

“Kalau harga kisaran dari Rp75 ribu sampai Rp100 ribu untuk sepatu. Kalau topi kisaran Rp85 ribu sampai Rp120 ribu. Paling mahal pernah saya jual Rp125ribu karena costum nya agak sulit,” ujarnya. 

Setakat dengan jerih payah yang sudah Ia lakukan, Yommi optimis usahanya ini akan kian berkembang di kemudian hari. Memiliki toko sendiri hingga memasarkan produk ke pasar mancanegara menjadi impian yang hendak dicapainya dari usaha tersebut. (NAJ)