SHARE
Kubu Raya Butuh 828 Sumur Bor Untuk Antisipasi Karhutla
Kebakaran lahan di salah satu wilayah di Kabupaten Kubu Raya Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK – Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Kubu Raya Amung Hidayat menyatakan wilayah Kubu Raya membutuhkan 828 buah sumur bor untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumur bor sebanyak itu mesti dibangun untuk mengantisipasi karhutla di wilayah Kubu Raya yang 60 persen terdiri dari lahan gambut dan rawan terbakar.

“Kita fokus mencegah karhutla, terutama di titik-titik yang telah berulang terjadi karhutla selama 18 tahun terakhir. Karena, seperti yang kita ketahui, 60 persen wilayah Kubu Raya ini adalah hutan gambut. Karena sifatnya mudah terbakar, ya kita cuma bisa mencoba mengantisipasi. Berdasarkan hitungan kami, ada sekitar 828 titik sumur bor yang harus dibangun. Baik dalam kawasan hutan maupun di luar,” katanya di Pontianak, Kamis (28/11/2019).

Untuk membangun sumur bor sebanyak itu, kata Amung, tentu tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan pemerintah daerah. Karenanya, Ia meminta pemilik izin konsesi untuk ikut berkontribusi membangun sumur bor serta sarana dan prasarana lainnya.

“Kita tahu kemampuan pemerintah terbatas. Oleh sebab itu, pemegang izin juga kita minta membangun sumur bor di sekitar areal dia. Bukan cuma sumur bor, penyediaan peralatan dan sumber daya manusia yang khusus menangani karhutla juga kita mintakan supaya bisa mengurangi dampak karhutla,” ucapnya.

Amung menambahkan bahwa sepanjang tahun 2019 ini, di wilayah Kubu Raya karhutla paling banyak ditemukan di wilayah permukiman dan pertanian penduduk. Dua desa disebutnya sebagai penyumbang titik api terbanyak sepanjang bulan Juli hingga Oktober 2019, yakni Desa Punggur Besar dan Punggur Kecil.

“Hasil analisis kami, sebaran hotspot paling banyak di permukiman dan pertanian penduduk. Itu ada di Punggur Besar dan Punggur Kecil. Di konsesi agak kurang, agak minim. Kayak di sawit, HTI itu agak kurang. Justru yang paling banyak itu tadi, di permukiman dan pertanian,” pungkasnya. (NAJ)