SHARE
Parit di Pontianak Barat
Kondisi salah satu parit di Kota Pontianak yang menimbulkan aroma kurang sedap di musim kemarau. Foto: Dok Natural Kapital

PONTIANAK – Musim kemarau yang melanda Kota Pontianak beberapa waktu lalu menyisakan sejumlah persoalanWarga kesulitan mengakses air bersih, bau tidak sedap muncul dari saluran air, dan kualitas udara memburuk.

Dalam bidikan Yayasan Natural Kapital, kondisi semacam ini sudah menjadi “kado” tahunan warga Pontianak. “Warga sudah menyampaikan kegelisahannya melalui berbagai ruang komunikasi publik. Salah satunya, kualitas air PDAM tidak layak dikonsumsi,” kata Hendri Ziasmono, Campaigner Natural Kapital di Pontianak dalam siaran pers Senin (7/10/2019).

Menurut Hendri, serangkaian fakta di depan mata sudah menyebutkan bahwa penggunaan air yang disediakan negara di musim kemarau, hanya sebatas mandi dan cuci. Hal ini dipengaruhi rendahnya kualitas air yang mengalir ke konsumen akibat intrusi air laut.

Berdasarkan catatan PDAM sejak Agustus lalu, kadar garam yang terkandung dalam air dapat mencapai 3.000 miligram per liter. Jumlah ini sudah berada di atas batas normal, yakni 600 miligram per liter.

PDAM tidak dapat berbuat banyak dengan kondisi tersebut. Pasalnya, sumber air baku yang berasal dari intake di Sungai Kapuas telah terintrusi air laut dan mengharapkan hujan segera datang agar debit air Sungai Kapuas segera meningkat,” papar Hendri.

Sebelumnya Wali Kota Pontianak juga sudah mengimbau warga untuk tidak mengonsumsi air PDAM yang tercemar oleh air laut dan menginstruksikan PDAM untuk menggunakan air baku dari Danau Penepat. Namun, hal tersebut tampaknya urung dilakukan oleh PDAM.

Hanya saja, Hendri menyebut situasi tersebut masih tertolong oleh warga Pontianak yang sudah terbiasa tidak mengonsumsi air PDAM. Warga lebih banyak mengonsumsi air hujan dan air galon yang bahan bakunya bersumber dari pegunungan.

Lebih jauh Hendri mengatakan bahwa masalah lain yang muncul saat musim kemarau ialah bau busuk yang berasal dari kanal atau parit. Bau itu muncul karena intrusi air laut yang masuk bersama air pasang ke saluran sungai. Ini menyebabkan timbulnya warna hitam pekat disertai bau busuk yang menyengat,” sebutnya.

Bagi pengendara sepeda motor, ucapnya, bau ini akan muncul selama perjalanan dikarenakan saluran kanal atau parit selalu berada di sisi jalan. Bahkan, para penikmat kopi juga sangat terganggu dengan bau parit yang sampai ke kedai-kedai kopi di Pontianak.

“Kondisi di atas seakan menambah buruk penanganan yang dilakukan Pemerintah Kota Pontianak dalam mengatasi pencemaran parit. Sebab, sebelumnya tidak ada solusi dalam mengatasi pencemaran parit yang berasal dari limbah rumah tangga, perkantoran, maupun rumah toko,” sebut Hendri.

Bahkan, dia menyebut sampai saat ini belum ada infrastruktur pengolahannya. Belum ada alternatif selain dialirkan ke parit atau sungai. Dampak lain dari situasi tersebut adalah meningkatnya jumlah nyamuk yang masuk ke rumah warga.

Selain persoalan di atas, lembaga ini juga menyoroti buruknya kualitas udara Kota Pontianak saat musim kemarau. Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan yang seolah sudah menjadi bencana rutin tahunan.

Menurut catatan Natural Kapital, kondisi kabut asap yang terjadi pada tahun ini seperti mengulang peristiwa bencana kabut asap yang terjadi pada 2015. Bahkan, dapat dikatakan lebih berbahaya karena kualitas udaranya melebihi 500 pada parameter Pm10. Ini sudah sudah dikategorikan level berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencamaran Udara (ISPU) pada pertengahan September lalu.

“Bencana kabut asap tersebut telah menambah daftar panjang masalah yang melanda Kota Pontianak saat musim kemarau. Penderita ISPA meroket, aktivitas penerbangan kacau, tingkat hunian hotel menurun, kegiatan perekonomian warga terhambat, dan aktivitas belajar mengajar di sekolah diliburkan. Ini kerugian yang sangat besar,” pungkasnya. (NAJ)