SHARE
Ilustrasi Virus Korona. FOTO/iStockphoto

PONTIANAK – Hoax Crisis Center Kalimantan Barat membantah informasi yang beredar luas di jagad maya terkait kematian warga negara Malaysia akibat terjangkit virus Corona di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soedarso Pontianak. Dalam siaran pers yang dirilis Minggu, (26/1/2020), konten tersebut dinilai sesat.

Virus corona belakangan ini menjadi pembicaraan serius. Pasalnya, virus jenis baru yang secara resmi telah diberi nama novel coronavirus atau 2019-nCoV oleh Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat itu memberi risiko kematian bagi yang terjangkit.

Update terakhir, ada 13 negara yang mengkonfirmasi terinfeksi virus corona. Yakni, China, Malaysia, Nepal, Jepang, Vietnam, Amerika Serikat, Thailand, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Jepang, Kanada dan Amerika Serikat.

Khusus di China, sudah ada 56 korban yang meninggal dunia dan terdapat 2.000 kasus yang dilaporkan. Virus corona pertama kali diidentifikasi pada 31 Desember di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Pada Sabtu (25/1/2020), negara Malaysia juga mengonfirmasi kasus virus corona pertamanya. Melansir dari Reuters, Menteri Kesehatan Dzulkefly Ahmad mengatakan orang yang terinfeksi adalah perempuan berusia 65 tahun dan dua cucu mereka berusia 11 dan 2 tahun.
Perempuan itu adalah istri pria berusia 66 tahun yang positif terinfeksi virus corona di Singapura.

Hal ini menjadi kekhawatiran setiap negara. Termasuk Indonesia yang juga sangat mengkhawatirkan sebaran virus ini. Meski tidak masuk dalam daftar 13 negara terinfeksi itu, tapi Indonesia merupakan negara tetangga Malaysia. Dan, banyak warga negara asing (WNA) dari Malaysia dan China di Indonesia.

Pemerintah Indonesia sudah gencar melakukan langkah-langkah antisipasi. Termasuk di Kalimantan Barat sudah mengambil langkah antisipasi dan kesiapan. Gurbernur Kalimantan Barat Sutarmidji pun sudah menyarankan masyarakat tidak panik dan meminta membiasakan hidup sehat, selalu cuci tangan, istirahat yang cukup dan sering berolahraga.

Namun, informasi liar yang bisa meresahkan masyarakat mulai bertebarkan. Salah satunya akun instagram TKP Pontianak. Akun ini membuat postingan foto gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soedarso Pontianak. Dalam foto itu, diberi tulisan bahwa: Geger!!!!! Baru datang dari Malaysia seorang pasien meninggal mendadak diduga terkena virus corona.

“Ini masih DI DUGA ya gesss , blm fix !! Kejadian tadi malam, semoga berite ini tidak benar. Tp kite semue harus waspada, agar virus ini tidak menyebar di kote kite,” tulis akun @tkp_pontianak.

Akun tersebut juga menuliskan bahwa tempat kejadian perkara (TKP) ada di RSUD dr Soedarso Pontianak. “Info via sopir travel bandara,” tulisnya.

Setelah dilakukan penelusuran oleh tim peneliti Hoax Crisis Centre (HCC) Kalbar, ditemukan bahwa informasi yang diposting akun IG @tkp_pontianak itu tidak ada kaitannya dengan virus corona.

“Kami menemukan bantahan dari Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, yang menegaskan bahwa informasi yang disebar tentang warga Malaysia meninggal di RSUD dr Soedarso karena virus corona adalah hoaks,” tegas Reinardo Sinaga, Ketua Umum HCC Kalbar, Minggu (26/1/2020).

Pria yang akrab disapa Edo ini mengatakan, fenomena virus corona memang membuat jagat media sosial berkecamuk. “Masyarakat diharapkan cerdas memilah informasi yang dipilih. Ikuti apa yang disampaikan oleh pihak yang berwenang yakni Dinas Kesehatan, bukan dengan berlindung dengan kata diduga,” tegas Edo.

Karena, sambung Edo, baru-baru ini ada akun media sosial yang membuat postingan diduga ada virus corona yang diderita oleh pasien di RSUD dr Soedarso. “Secara linguistik itu benar, bahwa menggunakan diksi diduga. Namun hal ini membuat setiap orang was-was. Apalagi hal ini sudah dibantah oleh Kadinkes Kalbar,” ujar pria yang aktif di Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) ini.

Dengan demikian, postingan akun IG @tkp_pontianak itu, kata Edo, masuk dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan. “Dimana konten tersebut bisa mengarah kepada tafsir yang salah dan bisa mengecoh atau menggiring opini para pembaca. Ada kesan framing di sini. Informasi yang diterima admin akun itu dari sopir bandara. Benarkah yang meninggal mendadak itu warga Malaysia? Kan belum ada keterangan dari pihak yang berwewenang,” terangnya.

Maka dari itu, Edo menyarankan masyarakat selalu melihat media massa yang jelas dan terverifikasi, bukan percaya media sosial. “Karena hasil pekerjaan jurnalistik sudah terukur dan juga bisa dipercaya. Kemudian, tanggapan ahli linguistik mengenai yang saya tanya tentang informasi yang dibuat akun itu, disebut presumption of guilt. Smoke is smoke, not fire. But for other people, smoke means fire,” ujar Edo.

Saat ini, postingan tersebut di akun @tkp_pontianak sudah dihapus. Buntut dari adanya pihak yang meluruskan informasi tersebut. Namun, beberapa tangkapan layar sudah beredar ke beberapa pengguna internet. (*/R-1))