SHARE
AJI Mengutuk Penangkapan Jurnalis Filipina Maria Ressa
Aliansi Jurnalis Independen

PONTIANAK – Presiden RI Joko Widodo akhirnya membayar tunai kebijakannya sendiri yang memberikan remisi kepada Nyoman Susrama, terpidana pembunuhan jurnalis Radar Bali AA Narendra Prabangsa. Remisi yang tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 29 tahun 2018 tertanggal 7 Desember 2018 ini akhirnya dicabut pada Sabtu (9/2/2019).

Proses pencabutan remisi bagi pembunuh jurnalis itu berlangsung di tengah gempuran gerakan dan tekanan jurnalis di seluruh Indonesia. Bahkan, Gazebo IAIN Pontianak, tempat AJI Pontianak dan LPM Warta menghelat diskusi Darurat Kebebasan Pers, Tolak Remisi Pembunuh Jurnalis itu, tiba-tiba hening.

“Saudara-saudara, di tengah diskusi yang kita helat hari ini, Presiden Jokowi di Surabaya resmi mencabut remisi bagi Susrama, terpidana pembunuh jurnalis Radar Bali. Kita apresiasi itu sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk tak pernah lelah merawat kebebasan pers,” kata Andi Fachrizal, jurnalis yang didaulat menjadi pemantik diskusi.

Menurut pria yang akrab disapa Rizal Daeng ini, remisi yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada I Nyoman Surasma sudah sepatutnya dicabut. Sebab hal itu dapat berimplikasi langsung terhadap kebebasan pers di seluruh Indonesia.

“AJI Pontianak merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu karena dampak yang ditimbulkan dari remisi yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo ini akan membunuh kebebasan pers di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Lebih jauh Rizal Daeng menjelaskan bahwa kegiatan yang sama juga digelar oleh AJI kota di seluruh Indonesia, namun dengan kegiatan yang berbeda-beda.

Hari ini, kata Rizal, jurnalis dan mahasiswa berkolaborasi dengan semangat dan militansi yang tinggi. “Kita menggandeng pers mahasiswa seperti LPM Warta IAIN Pontianak untuk bersuara bahwa remisi yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo itu harus dicabut. Dan saat ini, remisi tersebut resmi dicabut. Ya, itu kewajiban Presiden untuk memperbaiki kebijakannya sendiri yang salah kaprah itu,” ucapnya.

Sementara Ketua AJI Pontianak Dian Lestari menjelaskan ikhwal AJI mendesak Presiden RI mencabut remisi pembunuh jurnalis. Di hadapan puluhan mahasiswa itu, Dian menjelaskan bahwa kematian jurnalis Radar Bali Narendra Prabangsa di tangan I Nyoman Susrama, murni karena dampak dari pemberitaan. Susrama sendiri adalah seorang pengusaha yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pejabat daerah setempat.

“Jadi, kematian Prabangsa itu murni karena pemberitaan. Oleh karenanya, atas nama kebebasan pers kita menuntut Presiden RI mencabut remisi bagi Nyoman Susrama karena hal itu dapat mencederai nilai-nilai demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia,” pungkasnya. (NAJ)