SHARE
Pelatihan dan praktik pembuatan kompos di lokasi demplot pertanian organik Desa Bahitom. Foto: Dok. WWF-Indonesia

PONTIANAK – Setiap desa selalu mendambakan terobosan baru. Ini jamak terjadi di seantero negeri. Apalagi, desa memiliki kewenangan penuh untuk menata dirinya sendiri. Pijakannya adalah Undang-Undang RI Nomor 6 tentang Desa. Beranjak dari regulasi inilah, Desa Bahitom mulai melangkah.

Desa yang terletak di Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah itu tak berjalan sendirian. Ada lembaga swadaya masyarakat yang mendampinginya. Lembaga itu adalah WWF-Indonesia. Melalui

Muller Schwaner Arut Belantikan Landscape, pemerintah setempat akhirnya membidik potensi wisata berbasis pertanian.

“Pendekatan kita adalah agrowisata. Targetnya Desa Wisata Bahitom berbasis pertanian dan pendidikan lingkungan,” kata Uray Muhammad Hasbi, Muller Schwaner Arut Belantikan Landscape Coordinator WWF-Indonesia.

Banyak hal telah dilakukan. Di antaranya pemberdayaan dan penguatan kapasitas warga. Ini berlaku bagi Kelompok Tani Petak Danum Bahtera Bahitom dan Bumdes. Pelatihannya meliputi pembuatan kompos, memfasilitasi studi banding Bumdes dalam kerangka agrowisata, membangun kebun demplot seluas 5,6 hektar, dan menginisiasi terbentuknya Pokja Pembangunan Desa Wisata Bahitom melalui SK Bupati.

John Terry, Sustainable Forest Management Officer Muller Schwaner Arut Belantikan Landscape WWF-Indonesia yang bertugas di tengah-tengah warga. Dia dibantu dua rekannya, Arso Susetyo dan Tarmin. Mereka berjibaku meniti jalan panjang pendampingan.

Hal teranyar yang dikerjakan adalah penyampaian dokumen Masterplan Agrowisata Bahitom kepada para pemangku kepentingan. Ini akan menjadi acuan dalam implementasi pelaksanaan RPJMD Murung Raya sekaligus modal dasar untuk menyerap dana desa bagi program kelompok wisata.

John Terry juga mendorong agar warga memberikan nama untuk kelompok wisata yang sudah dibentuk. Mereka sepakat dengan nama Agrowisata Tukoi Bahitom. Tukoi artinya rajin. Dengan serangkaian ikhtiar itu, warga dapat menikmati nilai tambah perekonomian dari jerih payah panjang menuju Desa Wisata.

Sokongan Bupati

Bupati Murung Raya Perdie mengapresiasi upaya WWF dalam menggagas Desa Bahitom sebagai salah satu desa percontohan wisata berbasis agribisnis. Dia menilai demplot pertanian dampingan WWF adalah inisiatif yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam bercocok tanam.

Penanaman pohon di lokasi agrowisata oleh Ketua PKK Murung Raya. Foto: Dok. WWF-Indonesia

Saat ini, Desa Bahitom sedang berbenah diri untuk menjadi desa agrowisata. Bupati juga sudah menerbitkan Surat Keputusan Nomor: 188.45/383/2016 tentang Kelompok Kerja Pembangunan Desa Wisata Bahitom.

Bupati Mura menilai potensi Mura tidak kalah dibandingkan daerah lain khususnya di luar Kalimantan. “Kita punya areal yang luas, tingkat kesuburan tanah yang baik, dan dukungan dari pemerintah daerah, tinggal permasalahan mendasar apakah kita masyarakat mau melaksanakannya atau tidak. Demplot ini hal yang baik dan patut dikembangkan,” kata Bupati.

Bupati mengatakan, WWF telah memfasilitasi pembelajaran peningkatan kapasitas masyarakat. Salah satunya dengan membangun demplot pertanian organik yang nantinya akan dikelola oleh masyarakat Bahitom sebagai salah satu alternatif tujuan wisata khususnya wisata pendidikan lingkungan.

“Adanya lokasi pertanian organik di Bahitom seluas 5,6 hektar ini menjadi modal bagi kita untuk mengembangkan dan mengemas paket-paket wisata berdasarkan kearifan lokal yang ada,” katanya.

Bahitom cukup layak untuk dikembangkan menjadi Desa Prioritas Pembangunan khususnya pengembangan agrowisata. Dengan luas wilayah 56 kilometer persegi, Bahitom memiliki prospek pembangunan yang menjanjikan. Mayoritas masyarakat Desa Bahitom adalah petani. Kondisi daerah yang subur memberikan keuntungan tersendiri.

Desa ini  memiliki kebun karet yang tersebar luas di beberapa wilayahnya. Selain itu, potensi hutan masih terjaga,karena sebagian masyarakat masih mengandalkan hasil hutan untuk kebutuhan hidup. Kawasan hutan Desa Bahitom masuk ke dalam wilayah kerja KPH Unit II Murung Raya.

Sementara itu, Muller Schwaner Arut Belantikan Landscape Coordinator WWF-Indonesia Uray Muhammad Hasbi mengatakan, penetapan Desa Bahitom menjadi desa wisata telah melalui berbagai tahapan proses.

“Sebelum diputuskan bersama oleh masyarakat Desa Bahitom untuk membangun percontohan Desa Agrowisata Bahitom ini, kami bersama Bapak Bupati dan jajaran terkait sudah mengunjungi dua desa di Yogyakarta yang telah menerapkan konsep ini terlebih dulu,” terangnya.

Dengan adanya kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan berupa agrowisata di Desa Bahitom, hal ini diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat, pemasukan untuk desa, dan pemerintah daerah. Hal ini juga akan berkontribusi dalam upaya mengurangi tekanan dan potensi perusakan lingkungan di Bahitom. (R-1)