SHARE
Aksi damai yang digelar Aliansi Kalimantan Barat Tolak PLTN di Bundaran Digulis Pontianak. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK – Sejumlah aktivis lingkungan hidup dan mahasiswa pencinta alam yang mengatasnamakan Aliansi Kalimantan Barat Tolak PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) menggelar aksi damai, Kamis (10/10/2019). Aksi damai yang merupakan bentuk protes terhadap rencana pembangunan PLTN di Kalimantan Barat itu digelar di Bundaran Digulis, Jalan Ahmad Yani Pontianak.

Dalam aksinya, sejumlah aktivis terlihat berorasi menyuarakan aspirasinya sembari menyuarakan yel-yel ‘Tolak PLTN Sekarang Juga’. Massa juga tampak membawa spanduk dengan bertuliskan “PLTN Bukan Solusi”, “Energi Terbarukan Bukan PLTN”, “Nuklir No Clear” dan bermacam-macam tulisan lainnya yang menunjukkan penolakan terhadap PLTN.

Ditemui di lokasi aksi, koordinator lapangan Lisnawati mengatakan bahwa aksi protes tersebut sengaja dilakukan hari ini karena bertepatan dengan gelaran Seminar Nasional Infrastruktur Energi Nuklir yang diadakan di Universitas Tanjungpura Pontianak.

“Sengaja dilakukan hari ini karena bertepatan dengan seminar nasional bertemakan nuklir yang digelar di Universitas Tanjungpura. Itu tuh informasinya sangat tertutup. Bahkan dari BEM Sylva Untan, biasanya mereka dapat informasi. Nah, informasi tentang PLTN ini tidak mendengar sama sekali,” katanya.

Lisna menambahkan bahwa rencana pembangunan PLTN ini merupakan kebijakan yang diambil secara sepihak oleh pemerintah tanpa mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas. Sebab kata dia, tidak semua masyarakat Kalbar setuju atas rencana tersebut.

Berkaca pada kondisi itu, lanjut Lisna, pemerintah mestinya tidak memaksakan kehendak untuk membangun PLTN. Menurut dia, kebijakan paling arif yang harusnya diambil oleh pemerintah ialah memanfaatkan sumber energi lain di Kalbar yang selama ini belum dioptimalkan.

“PLTN bukan pilihan. Masih banyak alternatif energi lain yang bisa kita kembangkan. PLTN ini merupakan pilihan terakhir menurut kita,” ungkapnya.

Lisnawati juga menyayangkan penyesatan berpikir tentang energi nuklir yang selama ini digaungkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Lisna menerangkan bahwa penyesatan berpikir yang Ia maksud ialah penjelasan Batan yang menyebutkan bahwa energi nuklir merupakan energi terbarukan, padahal nuklir jelas bukan merupakan energi terbarukan.

Dalam aksi kali ini, massa juga menyesalkan rencana pembangunan PLTN yang terkesan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Padahal, pembangunan PLTN ini merupakan rencana besar dan berdampak terhadap hajat hidup orang banyak.

“Jepara sudah pernah menolak ini (PLTN). Negara luar juga sudah banyak yang menghentikan, kenapa negara kita ingin membangun PLTN?” imbuhnya.

Lebih lanjut Lisna menerangkan bahwa selain di Bundaran Digulis, massa aksi tolak PLTN ini juga direncanakan akan mendatangi Kantor DPRD Kalbar dan Kantor Gubernur Kalbar. Di dua lembaga tersebut, massa rencananya akan menyampaikan tuntutan sebagai berikut.

1. Bahwa yang diperlukan ialah energi terbarukan, bukan nuklir/PLTN.
2. Meminta Batan dan promotor PLTN di Indonesia untuk segera menghentikan penyesatan berpikir dan pembohongan publik.
3. Meminta pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan pemerintah di daerah untuk menghentikan atau tidak memaksakan rencana pembangunan PLTN di Kalimantan Barat atau Indonesia pada umumnya.
4. Meminta pemerintah pusat dan daerah untuk lebih fokus mengoptimalkan energi terbarukan sebagai solusi pemenuhan dan pemerataan energi alternatif masa depan.
5. Meminta wakil rakyat di parlemen untuk berkomitmen mengawal dan memperjuangkan tuntutan massa. (NAJ)