SHARE
164 Meriam Ramaikan Festival Meriam Karbit 2019
Gubernur Kalbar Sutarmidji mencoba menghidupkan meriam. Foto: NAJ/kalbarupdates.com

PONTIANAK– Festival Meriam Karbit Kota Pontianak 2019 kembali digelar. Di tahun ini, ajang tahunan yang rutin diselenggarakan pada malam takbiran itu dipusatkan di Gang H. Mailamah, Kelurahan Bangka Belitung Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara. 

Sedikitnya 164 buah meriam kayu ikut berpartisipasi pada festival tersebut. Jumlah meriam sebanyak itu berasal dari 29 kelompok yang tersebar di tiga Kecamatan di Kota Pontianak, yakni Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak Selatan dan Pontianak Timur. 

Ketua Forum Komunikasi Tradisi Meriam Karbit Seni dan Budaya Pontianak Fajriudin Ansari menjelaskan bahwa tidak semua kelompok pengelola meriam berhak mengikuti festival. Terdapat syarat khusus yang mesti dipenuhi antara lain bahan yang digunakan harus berasal dari kayu balok dan setiap kelompok harus memiliki minimal 5 buah meriam.

“Syaratnya harus kayu jenis balok. Paling sedikit 5 meriamnya. Di bawah itu tidak boleh. Kayunya bebas, mau meranti, bengkirai atau apapun terserah. Yang penting kayu balok,” ujarnya saat ditemui seusai Pembukaan Festival Meriam Karbit, Selasa (4/6/2019) malam. 

Fajriudin menambahkan bahwa jumlah peserta festival tahun ini mengalami penurunan. Tak kurang dari 60 buah meriam dikatakannya urung berpartisipasi karena kondisinya yang tak lagi layak diikutsertakan. Di samping itu, sulitnya memperoleh bahan baku pembuatan meriam juga menjadi penyebab turunnya tingkat partisipasi masyarakat mengikuti festival. 

“Untuk tahun ini sangat minim sekali, menurun. Maka dari itu dengan malam ini kami menyampaikan mudah-mudahan Pak Gubernur bisa membantu kami dalam hal memberikan rekomendasi untuk mendapatkan bahan baku balok. Ini susah sekali kita dapatkan. Makanya tahun ini menurun sekali. Ada kurang lebih ada 60 meriam yang tidak main. Kalau karbit tidak susah. Yang jadi kendala kita cuma di balok nya,” tuturnya. 

Adapun pemenang festival meriam ini ditentukan oleh penilaian yang dilakukan oleh enam orang juri. Kriteria penilaiannya meliputi bunyi dengan bobot 50 persen, dekorasi 30 persen dan budaya 20 persen. (NAJ)